Browse >> Home > Archive by category 'Renungan'

| Subcribe via RSS

Sudahkah Anda Tersenyum Hari Ini?

October 22nd, 2007 | 22 Comments | Posted in Anekaria, Renungan
TERINSPIRASI dari iklan lebarannya Pertamina yang bertubi-tubi disiarkan di Televisi yang mengajak kita untuk berbagi senyum. Di Iklan itu Dian Sastro seakan mengajak kita untuk selalu tersenyum hanya tersenyum itu saja, apakah sulit? Kalau menurut saya senyum berasal dari suasana hati, kalau suasana hati lagi tidak mendukung maka jadinya senyum kecut yang ditampilkan.

Dalam fisiologi menurut wikipedia, “senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang senyum untuk menampilkan kebahagian dan rasa senang”. Jadi kalau anda merasa bahagia atau senang tersenyumlah. Semua ini karena sebuah senyum tak membutuhkan uang satu sen pun (baca gratis).

Sekarang pernahkah Anda melihat wajah orang yang tidak pernah tersenyum? Bagaimana perasaan Anda? Yang pasti, apa pun perasaan kita, pada dasarnya, memandang wajah orang yang tidak mau tersenyum amatlah menjengkelkan. Ini tidak berarti kita harus terus senyum-senyum sendiri di mana-mana. Namun, alangkah berbedanya bila sudut bibir kita tertarik ke atas dan bukannya turun ke bawah.

Bila sudut bibir kita tertarik ke atas, wajah kita akan lebih nampak cerah dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa aman. Sebaliknya, bila sudut bibir kita turun ke bawah, maka seluruh rona muka kita akan tampak kusut dan membuat orang-orang di sekeliling kita enggan mendekat. Bisa saja orang beranggapan, “Orang itu judes. Orang itu jahat. Orang itu galak. Orang itu menyeramkan.”

Senyum menunjukkan keramahan yang terpancar dari dalam. Selain itu, senyum juga melegakan hati diri sendiri. Dengan tersenyum, kita akan merasa lebih santai dan jauh dari perasaan tegang. Kita memerlukan senyum, bukan hanya untuk membahagiakan orang lain, melainkan juga untuk menenangkan hati kita sendiri. Senyum selalu memiliki arti keindahan, ketenangan, kedamaian dan kasih sayang. Apa pun yang sedang kita alami saat ini susah atau senang, santai atau tegang berusahalah untuk tetap tersenyum. Tersenyumlah memandang semua hari-hari kita dan rasakan keramahan itu tidak hanya kita dapatkan dari luar pribadi kita, melainkan dari dalam diri kita sendiri.

Bahkan hanya karena sebuah senyum Mona Lisa dari Lukisan terkenal karya Leonardo da Vinci senyuman pun tak luput dari penelitihan. Makna senyuman dari Mona Lisa adalah 83% merasa bahagia, 9% merasa muak, 6% merasa takut dan sisanya 2% dalam kondisi marah.

Memang demikanlah senyuman seakan menjadi misteri yang sulit dipecahkan. Senyum seakan membuat segalanya terkamuflase entah bahagia, marah atau merasa muak dengan beban hidup yang ada, yang penting mari kita senyum saja semoga dengan senyum segalanya bisa menjadi lebih mudah, seperti Mona Lisa yang tetap kelihatan cantik meskipun dia juga sedang serasa muak dan dalam kondisi marah.

Thanks to Wikipedia for the pictures.

Ini Lebaran

October 17th, 2007 | 15 Comments | Posted in Anekaria, Keluarga, Renungan
PULANGLAH Nak….Ini Lebaran. Begitulah pengharapan semua orang tua pada anak-anaknya dirantau, tak terkecuali dengan harapan orang tua saya. Ya, karena pada saat lebaran inilah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan semua anggota keluarga. Semua anak dan cucunya bisa dilihat dan bisa bermain bersama. Karena selain lebaran sangat sulit sekali mengumpulkan semua anak dan cucunya secara bersama-sama.
Kemudian rombongan keluarga besar ini akan pergi bersama-sama ke saudara tertua yang saya sebut sebagai Pakde atau Bude. Kita ke rumah saudara tertua dari orang tua kita karena beliau adalah pengganti dari Kakek dan Nenek yang telah berpulang terlebih dahulu. Dikeluarga besar ini anggota keluarga bertambah semakin besar karena kebetulan juga berkumpul anak dan cucu dari Pakde dan Bude juga kedatangan keluarga dari kami dan menyusul kemudian dari saudara muda dari orang tua kita atau saya sebut sebagai Paklik dan Bulik beserta anak-anak dan cucunya juga. Jadi bisa dibayangkan ternyata besar juga keluarga dari kakek dan nenek saya. Sering kali kita bergurau bahwa dari dua orang ini (Kakek dan Nenek) kalau semua keluarga dikumpulkan bisa membentuk sebuah parta politik. Tak jarang dari kita ada yang saling tidak mengenal karena memang masing-masing telah disibukkan dengan aktivitasnya sendiri dan sama-sama hidup diperantauan. Juga karena jarangnya intensitas silahturahmi diantara keluarga besar inilah yang menyebabkan kita menjadi saling tidak mengenal.

Lebaran ternyata menyatukan saudara yang telah lama tidak tidak berjumpa. Tak jarang saudara kita ada yang ternyata hidup serantau dengan kita yang sebelumnya kita tidak tahu. Di saat lebaran inilah kita bisa berbagi cerita suka dan duka, tawa dan canda kerap menggema disela percakapan kita, senyum selalu terpancar dari wajah-wajah ramah mereka. Juga tidak ketinggalan beraneka ragam penganan khas daerah kami juga tak lupa dihidangkan. Begitulah suasana lebaran di kampung saya.

Jadi tidak salah kalau setiap lebaran orang tua kita selalu mengharapkan kita untuk pulang. Orang tua kitalah yang mengharapkan silahturahmi dengan keluarga besar tidak terputus. Meskipun terkadang dari kita sendiri yang merasa malas atau beranggapan ada hari lain selain lebaran. Lebaran tidak bisa digantikan dengan hari lain, lebaran tetaplah lebaran dimana semua orang saling bertemu untuk menyambung tali silahturahmi yang hampir padam. Begitulah memaknai lebaran ini.

Images taken from here.

Mohon Maaf Lahir dan Batin

October 10th, 2007 | 12 Comments | Posted in Anekaria, Renungan
Mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1428 H
Mohon maaf lahir dan batin

Berapa lama Kita dikubur?

September 17th, 2007 | 2 Comments | Posted in Renungan

AWAN sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke
kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan “Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915 : 20- 01-1965″

“Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk Neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.” Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah…” Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. “Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun … “

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910″

“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah”, jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. “Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. “Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. “Iya kan yah?”

Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur …. Ya nggak yah?” mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ….. “Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya… 42 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur …. Lalu Ia menunduk … Meneteskan air mata…

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun
lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi WA inna ilaihi rooji’un …. Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah… Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya.

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak … Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur…. tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan… Dan apa yang akan datang di depannya…

“Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Sebarkan tulisan ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat.. .

“Sebarkanlah walau hanya 1 ayat”

Gambar diambil disini