Browse >> Home > Archive by category 'Renungan'

| Subcribe via RSS

Mengapa Harus Berkomentar?

May 20th, 2008 | 116 Comments | Posted in Renungan, Teknologi, Tutorial

jangan nyepam tapi ya!!SAYA tertarik membaca beberapa blog tetangga yang kebetulan sedang membahas tentang tips blogging yang pastinya menarik untuk diikuti. Yang paling menarik bagi saya adalah pembahasan tentang pentingnya komentar yang bagi sebagian blogger adalah hukumnya wajib. Jangan sampai blog kita kehilangan pembaca sehingga sepi seperti “kuburan”. Bahkan sebagian mengharapkan sedekah komentar demi kelangsungan hibup blognya. Entah karena mengejar trafik atau pagerank yang jelas kurang seru saja kalau sebuah posting yang kita hasilkan dengan pemikiran yang matang bahkan memerlukan riset yang tidak sebentar ternyata kok tidak mendapatkan komentar. ;))

More »

Tags: , ,

Blog ini di 2007

December 26th, 2007 | 64 Comments | Posted in Anekaria, Renungan

HANYA ingin merangkum apa saja yang terjadi dengan blog saya ini di tahun 2007.
More »

Tags: , , ,

Listrik

December 24th, 2007 | 46 Comments | Posted in Renungan, Teknologi

Pembangkit ListrikSAYA termasuk generasi yang lahir tahun 70-an, dimana pada saat itu yang namanya listrik masih merupakan barang mewah karena tidak setiap rumah bisa memilikinya menikmatinya. Meskipun kami dulu tinggal diperkotaan tetapi listrik kami masih menumpang tetangga. Tetangga yang abunemen kami membayar separuhnya begitu seterusnya tiap bulan sampai akhirnya rumah kami bisa memiliki listrik sendiri.

Yang lebih parah lagi adalah didesa tempat Mbah saya tinggal, didesa yang letaknya tidak jauh dari PLTA Sutami (bendungan Karang Kates) malah sama sekali tidak ada aliran listrik. Jika liburan sekolah tiba kami bermalam dirumah Mbah. Suasana pedesaan tanpa listrik begitu kentara diwaktu malam tiba. Belum juga jam 8 malam tetapi suasana terasa sepi dan hening, hanya suara jangkrik yang saling bersautan. Tak ada suara musik dangdut yang terdengar dari televisi karena memang tidak ada televisi, lamat-lamat yang terdengar adalah siaran wayang kulit dari RRI di radio transitor milik Mbah Kakung.

Sekarang listrik itu telah ada di desa Jambuwer Kabupaten Malang tempat tinggal Simbah saya. Taraf kehidupan juga cenderung lebih baik sangat kontras dengan jaman kecil saya dulu. Rumah-rumah didesa itu sekarang telah terang oleh cahaya lampu neon bukan lampu petromak lagi. Mereka juga sudah menikmati siaran televisi meskipun dari parabola, karena didaerah pegunungan pemancar televisi tidak bisa menjangkau desa tempat Simbah tinggal. Listrik betul-betul membawa berkah bagi desa, yang sebelumnya bisa dikatakan tertinggal sekarang jadi tambah maju.

Sekarang hampir semua rumah dipenjuru dunia telah bisa menikmati listrik. Bahkan manusia sekarang sudah tidak bisa terlepas akan kebutuhannya dengan yang namanya listrik. Segala peralatan peradapan bumi sudah tergantung dengan listrik. Saat postingan ini dibacapun anda sedang menggunakan listrik. Listrik, ya.. saat ini kita benar-benar telah mempunyai ketergantungan dengannya. Entah nanti… apakah anak cucu kita masih bisa menikmatinya? Karena menurut yang saya baca sumber energi yang dibutuhkan untuk membangkitkan listrik ini berangsur-angsur akan segera habis kalau tidak ada sumber energi alternatif yang lain.

Seperti yang sering kita dengar dari iklan layanan masyarakat:

Nyalakan seperlunya, matikan Selebihnya. Listrik untuk kehidupan yang lebih baik.

*Gambar diatas adalah Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Lahendong-2 yang telah berhasil menyelesaikan reliability test run pada pertengahan bulan Juni 2007 dan telah diserahterimakan kepada PT PLN pada tanggal 19 Juni 2007.

Tags: ,

Televisi

December 21st, 2007 | 42 Comments | Posted in Keluarga, Renungan, Teknologi

Televisi adalah souvenir abad 20

TelevisiAnda pasti tahu seperti apa rupa televisi itu. Benda kotak berlayar kaca ini hampir selalu ada di setiap rumah diseluruh penjuru dunia. Saya katakan “hampir selalu ada” karena ternyata ada juga lho yang tidak mempunyai televisi dirumahnya. Saya masih ingat dulu ketika saya kecil kami belum mempunyai pesawat televisi, jadi untuk menonton siaran TVRI kala itu kami selalu menumpang nonton di rumah tetangga yang tergolong kaya di kampung saya. Memang waktu itu pesawat televisi ini termasuk barang mewah, jarang sekali orang mempunyai pesawat televisi ini kalau bukan seorang yang kaya.

Waktu pertama kali mempunyai pesawat televisi hitam putih dirumah, sengaja bapakku memasang kaca berwarna yang clip-on supaya kita bisa melihatnya jadi berwarna. Memang lucu juga sih yang atas berwarna hijau yg tengah kuning kemudian yg bawah berwarnah merah jadi kesannya kita melihat televisi berwarna gitu :D .

Saya teringat waktu tahun 80-an saat siaran pertandingan tinju Muhammad Ali diputar secara langsung di televisi, jalan-jalan begitu sepi bahkan kegiatan sekolah banyak yang diliburkan demi melihat pertandingan tinju yang dilakoni legenda tinju saat itu. setelah itu hampir semua pembicaraan di kantor guru, warung-warung kopi maupun pangkalan becak sekalipun semua membicarakan Muhammad Ali. Benar-benar pengaruh sebuah tontonan televisi saat itu begitu boombastis sampai bisa menghipnotis semua orang tua dan muda dari strata ekonomi terendah sampai yang kaya raya.

Televisi ada di HandphoneSekarang hampir semua rumah memiliki benda kotak berlayar kaca ini, bahkan banyak pula yang mempunyai lebih dari satu. Kamar anak-anak saja sekarang sudah lazim juga dipasangi pesawat televisi, bahkan kalau perlu kamar mandi juga dipasang pesawat televisi. Entah apa karena takut ketinggalan informasi atau takut terlewatkan episode sinetron sampai mobilpun kalau perlu dipasang televisi juga. Yang sekarang lagi tren saat ini handphonepun juga mulai mengakomodasi fasilitas televisi ini.

Terlepas dari masalah perkembangan teknologi nyatanya ada juga orang yang enggan mempunyai televisi meskipun sebenarnya dia mampu membelinya. Direktur pabrik saya dulu mempunyai alasan sederhana kenapa beliau tidak mempunyai pesawat televisi dirumahnya, beliau bilang tidak ingin waktu kebersamaannya di keluarga tersita oleh tontonan yang ditayangkan oleh televisi. Beliau lebih senang bercengkrama akrab dengan anak dan istrinya dirumah, atau kalau perlu nonton film bersama di bioskop favorit mereka sembari jalan-jalan atau refreshing bersama. Untuk informasi terkini cukup koran dan layanan internet saja yang beliau langgan.

Itulah televisi dengan berbagai ragam bentuk dan ukuran serta aneka layanan dan muatan siaran yang tersaji setiap hari. Mutu dan kualitas content silahkan di saring sendiri sesuai dengan keinginan dan selera anda semua. Kalau tidak suka silahkan ambil remote dan ganti channelnya dengan yang anda suka ;)) .

Takut

December 19th, 2007 | 45 Comments | Posted in Keluarga, Renungan
Apa yang kamu takuti sesungguhnya???
Sebenarnya kamu sudah MATI.
Karena kamu takut, hingga kamu tak berani berbuat apa-apa.
Untuk apa hidup, kalau hanya takut, takut, dan takut!!!

Hidup! dan bangkitlah…!
Hidup cuma satu kali, jangan takut, dan jangan sia-siakan.
Saatnya menikmati hidup, dan bahagiakan orang-orang yang kamu sayangi.
Ingat, waktu terus berjalan…..

Tapi aku kok masih takut ya…
Takut meninggalkan zona ini…
Ah.. seandainya zona ini ada disana… 8->