Browse >> Home > Archive by category 'Perjalanan'

| Subcribe via RSS

Rumahku "Mewah"

November 14th, 2007 | 14 Comments | Posted in Perjalanan


INI rumah saya yang bener-bener mewah (mepet sawah). Yang kesasar di Malang silahkan mampir. Kalau kesulitan mencari rumah saya silahkan buka wikimapia.org dan cari nama totok sugianto pasti nanti dibawah ke desa saya di Pakisaji Malang.

Terima kasih Om Google dan Wikimapia yang mengijinkan saya mengkapling rumah saya.

Jalan Bebas Hambatan

November 11th, 2007 | 35 Comments | Posted in Perjalanan
HARI-HARI belakangan ini pengguna jalan di Jakarta dipusingkan dengan semakin maraknya kemacetan dimana-mana. Tidak ada hari tanpa macet begitu kira-kira keluh para pengguna jalan. Usut punya usut ternyata eh ternyata kemacetan ini banyak disumbang oleh proyek busway yang sedang dikebut. Banyak pro dan kontra dengan adanya proyek ini, yang kontra bilang proyek ini biang keladi semakin ruwetnya lalu-lintas di ibukota sehingga semakin menimbulkan kemacetan yang semakin hebat. Sedangkan yang pro mengatakan bahwa kedepan jakarta harus mempunyai solusi moda transportasi masal yang dapat mengurai kemacetan, dan busway ini adalah salah satu solusinya. Kita memang hanya diminta bersabar saja sembari menunggu rampungnya proyek ini.
Kita tinggalkan sejenak keruwetan ibukota ini. Jumat kemarin (10/11) selepas kerja kami rombongan buruh ini melancong ke kota Bandung untuk sejenak melepas kepenatan dan idip-idip cuci mata begitu kira-kira judul acara refreshing kita. Kita sengaja mengambil rute melewati tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) dan fantastis tidak sampai dua jam kami sudah sampai di kota Bandung. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya kami takjup dan terkesima dengan pemandangan yang disuguhkan oleh jalan tol sepanjang 41 Km ini. Bagaimana tidak heran kita yang hanya buruh ini kan jarang jalan-jalan jadi hanya mendengar saja cerita-cerita tentang jalan tol yang diresmikan pada 12 Juli 2005 dua tahun silam. Sepanjang kiri dan kanan kita disuguhi hamparan bukit dan lembah yang seakan-akan dibelah oleh jalan tol yang kita lewati. Terkadang saya bisa menyaksikan pemandangan jembatan kereta api yang tingginya mungkin sama dengan tower pemancar cellular atau bahkan lebih. Saya membayangkan bagaimana susahnya jalan ini dulu dibuat dan betapa banyaknya orang (baca: pekerja) yang terlibat didalamnya apalagi anggaran yang disedot oleh proyek ini pasti buanyuak (saking banyaknya).

Dampak dari pembangunan jalan tol ini memang beragam. Pada awalnya banyak pemilik warung dan restoran di sepanjang jalan alternatif Jakarta Badung ini mengeluh karena omset mereka turun drastis bahkan sampai ada yang gulung tikar karena banyak pengguna jalan yang dulu mampir di warung atau restorannya beralih lewat jalan tol sehingga tidak ada lagi yang menyambangi warungnya. Disisi lain faktor ekonomi yang lain akan terangkat ini ditandai semakin menjamurnya FO (Factory Outlet) di kota Bandung karena orang Jakarta banyak yang menghamburkan uang dengan belanja aneka baju dan pernak-pernik khas Bandung. Wisata kuliner juga semakin tumbuh bak jamur dimusim hujan. Ini semua berkat sumbangan dari arus transportasi yang semakin nyaman dan singkat untuk ditempuh. Lalu lintas barang dan jasa tentu saja juga ikut melejit seiring dengan baiknya sarana transportasi ini.

Cerita diatas sangatlah ironis dengan pengalaman salah satu teman yang setiap tahun pulang ke Palembang. Jangankan jalan tol bebas hambatan, jalan raya lintas Sumatera (Jalinsum) yang nota bene adalah jalan negara saja kondisinya sangat jauh dari rasa nyaman. Kalau sudah begitu bagaimana perekonomian bisa maju atau minimal bisa sejajar dengan pulau Jawa kalau sarana transportasi daratnya saja masih jelek. Ujung-ujungnya pasti adalah arus urbanisasi dari daerah semakin meningkat. Jadi jangan salahkan kami kalau kami berbondong-bondong mengadu nasib di Jakarta hanya untuk menghidupi anak istri kami di kampung. Atau janganlah mengusir kami secara tidak manusiawi lewat operasi yustisimu. Kalau sudah dengan acara usir mengusir secara paksa begitu apa bedanya dengan negara tetangga yang mengerahkan pasukan RELAnya untuk mensweping WNI dengan dalih pendatang ilegal. Halah kok malah curhat ya…

Semoga pembangunan jalan-jalan bebas hambatan di Pulau Jawa juga diikuti dengan pembangunan infrastruktur jalan di daerah-daerah yang lain supaya laju perekonomian daerah juga tidak semakin tertinggal dengan pulau Jawa.

Keliling Jakarta Naik Busway, Yuuuk!

October 25th, 2007 | 20 Comments | Posted in Kuliner, Perjalanan
SEBUAH buku petunjuk praktis tentang moda transportasi di Jakarta telah terbit sekitar September kemarin. Buku berjudul “Keliling Jakarta Naik Busway, Yuuuk!” yang lebih mirip buku saku ini bisa didapatkan di toko buku di Jabodetabek. Buku mungil setebal 65 halaman yang diterbitkan oleh Nalar ini meyakinkan pembacanya bahwa menggunakan busway (baca angkutan umum) sebagai sarana transportasi sehari-hari adalah hal yang menyenangkan.
Buku berbandrol Rp. 19.500,- ini sangat membantu pengguna angkutan umum terutama para Bloggerwan dan Bloggerwati yang akan membanjiri Jakarta pada 27 Oktober nanti untuk menghadiri event terbesar tahun ini yaitu Pesta Blogger 2007.

Buku ini berisi :

  • Peta semua koridor Busway dan perpotongan per koridor. Peta per koridor, seluruh halte, titik perpindahan antarkoridor, dan tempat-tempat tujuan.
  • Feeder busway dari perumahan-perumahan sekitar Jabotabek
  • Rute bus umum yang jadi feeder busway.
  • Rute bus dari terminal-terminal di Jakarta, plus perpotongannya dengan Busway. Mulai metromini sampai Patas.
  • Peta lengkap jalur KA se-Jabodetabek, Plus jadwal terbaru tiap jalur, dari AC sampai ekonomi
  • Daftar bus bandara, tempat-tempat pemberangkatan, dan rutenya, kalau-kalau kita mau segera cabut dari Jakarta
  • Indeks : Cari nama tempat yang akan kita tuju di indeks. Lihat halaman yang ada di sebelah nama tempat itu. Di situ kita bisa melihat angkutan umum apa yang paling cocok untuk sampai ke tempat tujuan.
Saya ucapkan selamat datang kepada para peserta Pesta Blogger 2007 dari luar kota Jakarta dan selamat menikmati angkutan umum kebanggaan warga kota Jakarta ini.

Fenomena Mudik Gratis

October 9th, 2007 | 7 Comments | Posted in Anekaria, Perjalanan

MUDIK menurut wipedia adalah :

kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, Mudik boleh dikatakan sebuah tradisi yang mutlak harus dilaksanakan. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.

Melihat fenomena mudik yang terjadi setiap tahun tersebut, maka mulailah digelar acara mudik bersama. Produsen Jamu Sido Muncul adalah pelopor pertama diadakannya Mudik Bareng ini. Target produsen Jamu ini adalah para penjual Jamu Gendong maupun distributor Jamu yang memasarkan Jamu Sido Muncul ini. Rute yang dipilihpun umumnya masih sekitar kota-kota di Jawa antara lain Cirebon, Banjarnegara sampai Solo dan Wonogiri.
Salah satu perintis mudik yang lain yaitu Indofood juga telah menetapkan Mudik Gratis sebagai Program tahunan rutin yang wajib ada. Sama dengan Sido Muncul pemudik yang disasarnya adalah pedagang mie instant rebus dari seputaran Jabotabek hingga Kerawang.

Setelah itu berturut-turut mulai diikuti oleh produsen pabrikan yang lain mulai dari Holcin, Bintang Toedjoe, Sariwangi, Telkomsel sampai Bank BNI juga turut memeriahakan acara mudik gratis ini. Moda transportasi yang dipilihpun mulai beragam. Kalau biasanya yang dipilih sebagai moda transportasinya adalah bus sekarang kereta api mulai digunakan juga sebagai alternatif transportasi. Bintang Toedjoe sebagai produsen Extra Joss adalah penggagas digunakannya rangkaian kereta api kelas bisnis sebagai alternatif angkutan lebarannya.

Tahun ini Sariwangi malah menyediakan mobil beserta pengemudi lengkap dengan segala macam biaya perjalanan disediakan untuk konsumen Sariwangi yang terpilih. Konsumen tidak perlu pusing sengan biaya bensin tol bahkan biaya makan selama di perjalanan ditanggung oleh Sariwangi. Jadi mudik sekeluarga dengan gratis bakalan lebih nyaman juga tentunya. Selain menghemat biaya pengeluaran kita juga tidak akan direpotkan dengan harus antri untuk beli tiket yang terkadang sudah habis diborong oleh calo.

Jadi kenapa tidak kita coba saja Ritual Mudik ini dengan mengikuti salah satu penyelenggara Mudik Gratis. Selain meriah pastinya tidak akan membuat kantong kita jadi bolong, bukan begitu saudara?

Mudik gratis, kenapa tidak?

Gambar diperoleh dari sini

Ke Malang? Naik aja Gajayana

August 24th, 2007 | 1 Comment | Posted in Perjalanan

KALAU anda merencanakan perjalanan ke Kota Malang memang banyak alternatif moda transportasi. Kalau anda memilih alternatif jalan darat anda bisa mencoba naik kereta api atau naik bus malam. Moda tranportasi udarapun saat ini sudah menjangkau kota Malang. Memang tidak seperti kota besar Surabaya di Jawa Timur yang alternatif pilihan maskapai penerbangannya banyak, di Kota Malang saat ini hanya dilayani oleh dua maskapai penerbangan saja yaitu Sriwijaya Air dan Mandala Air.

Dari beberapa moda tranportasi tersebut yang paling difavoritkan saat ini adalah kereta api. Moda tranportasi masal ini selain ongkosnya terjangkau juga waktu tempuhnya juga relatif terjaga. Kenapa di favoritkan? Karena saat ini jalan darat dari Surabaya ke Malang nyaris lumpuh akibat meluapnya lumpur Lapindo di Sidoarjo yang memutuskan jalan tol Surabaya - Gempol dan memutuskan sebagian jalan alternatif di ruas Porong. Sehingga saat ini kereta apilah yang menjadi harapan pengguna transportasi.

Ke Malang? Naik aja Gajayana. Gajayana adalah kereta kelas eksekutif yang melayani rute Jakarta - Malang. Selain Gajayana memang ada juga satu lagi kereta api ekonomi yang melayani rute ini yaitu Matarmaja. Meskipun melayani rute yang sama tetapi masing-masing mempunyai pangsa pasar yang berbeda.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Malang saya lebih memilih menggunakan KA Gajayana karena selain lebih nyaman dan lebih cepat dibandingkan Bus Malam juga lebih terjangkau dibandingkan dengan pesawat terbang. Untuk hari-hari biasa tiket yang dikenakan per orang adalah Rp. 220.000,- dan untuk hari-hari besar atau musim liburan biasanya harga tiket akan disesuaikan menjadi Rp. 250.000,-. Untuk melihat lebih detail harga tiket silahkan langsung ke http://ticketing.kereta-api.com/

Kereta Api Gajayana diberangkatkan dari Stasiun Jakarta Kota tepat jam 17.15 menuju stasiun Gambir, karena dari stasiun Gambir inilah mayoritas penumpang kereta api kelas Eksekutif diberangkatkan. Tepatnya jam 17.32 kereta diberangkatkan dari stasiun Gambir. Kereta akan berhenti di Stasiun Purwokerto, Jogja, Solo, Madiun, Kediri, Tulungagung, Blitar dan terakhir adalah pemberhentian terakhir di Stasiun Malang.

Meskipun pemberitaan kereta api akhir-akhir ini selalu buruk tetapi tidak akan pernah menyurutkan keinginan saya untuk selalu menggunakan jasa kereta api ini. Memang dampak dari seringnya kecelakaan kereta api menyebabkan waktu perjalanan jadi bertambah panjang karena masinis akan lebih berhati-hati dan mengurangi kecepatan jika melewati bantalan rel yang tidak stabil.

Saya sebagai pengguna KA Gajayana ini hanya berharap semoga mutu dan pelayanan kereta api semakin ditingkatkan. Dan jangan sampai lupa melakukan perawatan berkala terhadap sarana yang telah ada. Semoga Kereta Api Indonesia semakin dicintai oleh masyarakat dan dapat cepat berbenah diri dengan Teknologi Operasional Pelayanan Prima.