Browse >> Home > Archive by category 'Perjalanan'

| Subcribe via RSS

Myanmar Berduka

May 6th, 2008 | 33 Comments | Posted in Anekaria, Perjalanan, Politik

MYANMAR negeri dengan berjuta pagoda itu saat ini sedang mengalami kedukaan yang mendalam. Topan Nargis yang menghantam negeri ini semenjak Sabtu, 3 Mei lalu telah melululantakkan segalanya. Menurut koran resmi setempat telah 15 ribu korban jiwa melayang, bahkan 10 ribu diantaranya berasal dari satu kota saja. Korban terbanyak berasal dari Kota Bogolay akibat delta Sungai Irrawaddy yang meluap diterjang topan Nargis tersebut.

Yangon yang merupakan Ibukota Negara dan termasuk kota terbesar di Myanmar juga tak luput dari terjangan topan Nargis ini. Ganasnya topan tropis Nargis yang menyerang Myanmar ini telah memaksa pihak junta militer untuk meminta bantuan internasional. Berharap semoga bantuan internasional yang dikomandoi oleh koordinator kemanusiaan PBB bisa segera tiba ditempat dan dapat segera bekerja menyalurkan bantuan kepada rakyat Myanmar yang sangat membutuhkan.
More »

Tags: , ,

Melaku-Melaku Nang Tunjungan

January 15th, 2008 | 57 Comments | Posted in Pendidikan, Perjalanan

Tunjungan PlasaPADA liburan kemarin (11/1/2008) saya sempatkan untuk melaku-melaku nang tunjungan (jalan-jalan ke tunjungan) Surabaya. Kebetulan seorang teman lama mengundang saya untuk ketemuan selain sudah lama tidak bertemu juga karena ada suatu urusan yang dirasa perlu.

Perjalanan dari Malang ke Surabaya terasa sangat lambat ketika mulai memasuki Porong di Sidoarjo. Selain antrian panjang mobil yang sangat panjang karena hanya jalan inilah yang bisa dilewati semenjak jalur tol terendam lumpur panas, juga debu dari keluar pasuknya truk pengangkat sirtu (pasir dan batu) untuk menanggul areal luberan lumpur Lapindo. Musti ektra sabar dan berhati-hati kalau melewati jalur ini karena hampir sebagian badan jalan telah rusak dan banyak lubang disana-sini. More »

Tags: , ,

Pantura Awal Tahun, Hujan dan Banjir

January 3rd, 2008 | 63 Comments | Posted in Anekaria, Perjalanan

Bus LorenaRuang TungguRuang Tunggu

SEBELUMNYA saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2008 kepada rekan-rekan semua. Ini adalah postingan pertama saya di tahun 2008 tentang perjalanan awal tahun melewati pantura, hujan dan banjir.

Awal tahun selalu identik dengan turunnya hujan. Entah pertanda apakah gerangan. Dan hujan ini hampir merata, paling tidak sepanjang rute pantura yang saya lewati kemarin. Saya mengambil rute melalui jalan darat menggunakan bus melalui jalur pantura dari Malang menuju Jakarta. Jalur kereta api sangat tidak disarankan saat ini karena hampir sebagian rel yang melintasi jalur utara rawan terendam banjir akibat hujan yang turun dengan curah hujan yang sangat tinggi. Bahkan akibat meluapnya sungai Bengawan Solo di Bojonegoro rute kereta api yang melalui jalur utara dialihkan melalui jalur selatan. Bisa dibayangkan betapa padat rute jalur selatan ini yang harus melayani semua jadwal kereta api dari mulai kelas ekonomi sampai kelas eksekutif. Konon kereta api paling super eksekutif sekelas Argo Bromo Anggrek mengalami keterlambatan sampai 8 jam.

More »

Wisata "Negeri Diatas Awan Gunung Bromo" (2)

November 23rd, 2007 | 39 Comments | Posted in Perjalanan
SETELAH seharian berwisata agro di “Negeri Setuja Apel” sabtu (28/7/2006) kami meneruskan perjalanan kami ke Bromo. ADA beberapa pilihan rute mencapai Bromo. Yang paling populer, melalui Probolinggo. Alternatif lain menuju Penanjakan adalah melalui Wonokitri di barat laut Bromo yang bisa dicapai dari Malang atau Pasuruan, atau melalui Lumajang di tenggara Bromo. Pilihan terakhir ini jarang dilakukan karena jalan sulit dilalui.
Kami sengaja mengambil rute melalui Probolinggo karena kami menggunakan Bus Pariwisata yang tidak memungkinkan melalui jalur Wonokitri yang sempit dan berliku itu. Begitu berbelok ke kanan dari arah Surabaya-Probolinggo sebelum memasuki kota atau yang dikenal dengan Tongas jalan mulai menanjak dan berkelok, tetapi beraspal mulus hotmix. Jam 19.00 kami telah sampai di Grand Bromo Hotel Desa Sukapura yang masih berada di wilayah Kabupaten Probolinggo. Penginapan ini termasuk salah satu hotel berbintang terbaik di Probolinggo. Sebenarnya anda bisa juga memilih penginapan di Desa Ngadisari atau Desa Cemoro Lawang. Desa-desa ini adalah sebagian kecil dari desa-desa lain yang dihuni oleh masyarakat Tengger.

Meskipun hotel penginapan kami agak jauh dari Gunung Bromo tetapi hawa dinginnya teramat menusuk sampai ketulang, pantesan kami tidak menemui Air Condition yang biasanya menjadi fasilitas pelengkap hotel berbintang. Petugas hotel memberitahukan kepada kami untuk bersiap di lobby jam 03.00 karena matahari akan muncul sekitar jam 05.00. Pakaian pun harus cukup tebal karena suhu di Penanjakan bisa mencapai lima derajat Celsius atau kurang. Perjalanan ke Penanjakan hanya boleh menggunakan jip Toyota four-wheel drive milik penduduk Tengger yang memang disewakan untuk keperluan ini. Alasannya, jalan menanjak terjal dan perjalanan malam hari bisa merepotkan untuk yang tak mengenal jalan di sana. Sebelum istirahat kami menyempatkan untuk nongkrong dulu di lobby lounge sembari menukarkan kupon welcome drink kami dengan segelas minuman hangat bandrek yang bisa menghangatkan badan.

Jam 03.00 kami semua telah siap di lobby. Ternyata rombongan kami tidak sendirian terlihat beberapa rombongan turis asing juga telah bersiap untuk “Berburu Matahari Bromo” bersama rombongan tamu domestik lainnya. Dengan pelupuk mata masih berat, kami berangkat naik jip sewaan. Secara beriringan kami menyusuri jalan tanjakan yang berliku, tak jarang pengemudi yang asli orang Tengger itu mengoper perseneleng ke gigi yang lebih rendah. Seperti juga rata-rata jip hardtop lainnya, jip yang kami naiki terawat sangat baik meskipun buatan akhir tahun 1970-an, sehingga tanjakan curam dia libas dengan mudah.

Jalanan gelap, berkelok-kelok, dan terus menanjak. Sepanjang jalan kami tidak berpapasan dengan kendaraan lain, meskipun beberapa kali jip kami saling susul. Sekitar satu jam kemudian kami mulai memasuki lautan pasir. Pengemudi kami memilih rutenya sendiri, tidak mengikuti batu-batu putih penunjuk jalan yang tersusun di atas pasir. Terlihat satu-dua rombongan orang berjalan kaki, ada juga yang naik kuda, mengikuti petunjuk batu-batu putih. dari kejauhan terlihat satu-satu sorot lampu mobil, menandakan ada beberapa orang yang bertujuan sama seperti kami.

Sampailah kami di dataran tertinggi Penanjakan. Sayang tempat yang disediakan di Penanjakan untuk menyaksikan terbitnya Matahari terlalu sempit, sehingga setiap orang berjubelan berusaha mencari tempat terbaik. Semua telah siap menodongkan kameranya kearah pegunungan, moncong-moncong kamera itu sudah tidak sabar menunggu moment terbitnya sang Matahari diufuk timur. Begitu moment yang ditunggu muncul semua pengunjung bersorak bahkan sampai bertepuk tangan. Saya tak bisa menyembunyikan kegembiraan saya karena memang sebelunya tidak pernah menyaksikan langsung penguasa siang itu datang.

Perlahan matahari mulai bergerak semakin tinggi, menurut saya pemandangan kali ini lebih menyedapkan mata. Sejauh mata memandang yang tampak adalah kombinasi antara sinar Matahari pagi dan kabut yang mengambang di lereng Gunung Batok, Bromo, dan Kursi dengan latar belakang Gunung Semeru. Betul-betul pemandangan dramatis serasa kita berada di “Negeri Diatas Awan”.

Setelah puas menikmati pemandangan gunung Bromo dari dataran tertinggi kita segera meneruskan perjalanan lagi menuju gunung Bromo. Jip kami bergerak turun dari Penanjakan dan kembali melintasi lautan pasir. Pada pagi hari semua terlihat jelas dan sejauh mata memandang tampak lautan pasir dan puncak-puncak gunung. Mungkin disinilah film Pasir Berbisik yang dibintangi Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo di buat. Di dekat kuil yang digunakan untuk upacara Kesada di kaki Bromo, kendaraan berhenti. Perjalanan selanjutnya adalah menuju kawah Bromo. Sampai disini kita musti jalan kaki atau naik kuda menuju ke kaki tangga.

Perjalanan dengan naik kuda sangat menegangkan buat saya karena selain jalanannya terjal dan mendaki kebetulan saya juga tidak biasa berkuda, biasanya berMio hehe.. dasar katrok saya wong ndeso. Tidak perlu waktu lama kami telah sampai di kaki tangga. Lho kok gunung ada tangganya toh. Mungkin supaya pelancong bisa mudah mendaki gunung makanya dibuatlah tangga itu. Gitu aja kok repot. Bila selama ini praktis kami tidak perlu terlalu banyak menggerakkan fisik, maka mendaki 245-an anak tangga merupakan ujian (tidak pernah ada yang sepakat tentang jumlah anak tangga ini, tetapi kira-kira antara 240-250 anak tangga). Tetapi, kemudian ini pun hal yang bisa dikompromikan karena semua orang berhenti setiap kali merasa lelah. Hanya anak muda yang merasa tidak sabar pada barisan yang bergerak lambat yang menggunakan tangga turun untuk naik ke atas dengan cepat.

Mulut kawah tidak terlalu luas, tetapi mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat. Menurut cerita setiap upacara Kasada aneka hasil bumi dan unggas dilempar kemulut kawah, namun dibawah bibir kawah telah banyak orang yang siap berebut menangkap aneka persembahan tersebut yang berharap sebagai berkah.

Setelah puas menikmati atraksi Matahari terbit dan keindahan “Negeri Diatas Awan” lalu bercanda dengan “Pasir Berbisik” tiba saatnya kami untuk turun gunung. Jam telah mununjuk angka 8.30 pagi sesuai kesepakatan kami untuk berkumpul kembali di jip masing-masing. Ketika kembali ke Sukapura, baru terlihat bahwa di kiri-kanan jalan yang kita lewati adalah lereng-lereng terjal, selain jurang, yang sebagian besar ditanami tanaman sayur oleh penduduk.


Dari Grand Bromo Hotel di Sukapura setelah menikmati sarapan pagi kami langsung checkout dan bus kami segera tancap gas menuju ke Bandara Juanda Surabaya. Disana sudah menunggu pesawat dengan tempat duduk seperti angkot, siapa cepat dia dapat cendela. Bener-bener wong ndeso semua, kami berlarian menuju pesawat Air Asia berlomba mendapatkan tempat duduk dekat jendela, biar bisa melihat gunung dari atas awan. Maka kembalilah kami di kehidupan normal kami di Jakarta sebagai buruh pabrik roti.

NB:
1. Semua foto diambil dengan kamera digital abal-abal dengan resolusi maximum 3.2 Mega Pixel
2. Setelah kunjungan kami ke Grand Bromo Hotel saya mendengar kabar bahwa sekarang hotel itu telah tutup untuk sementara waktu karena tingkat hunian dan kunjungan wisatawan ke Bromo turun disebabkan oleh akses jalan di Porong terendam lumpur.

Wisata "Negeri Sejuta Apel" (1)

November 21st, 2007 | 31 Comments | Posted in Kuliner, Perjalanan
SETIAP tahun kami para buruh pabrik ini selalu membikin acara piknik mengunjungi tempat-tempat menarik untuk sekedar melepaskan kepenatan setelah bekerja keras setahun. Kebetulan waktu itu saya berhasil merayu juragan untuk mencoba melancong ke Jawa Timur. Bromo menjadi pilihan yang menarik karena kebanyakan dari rekan belum pernah mengunjungi Gunung Bromo. Persiapan segera disusun saya ditunjuk untuk mengatur tetekbengeknya mulai perjalanan, akomodasi sampai obyek wisata yang akan dikunjungi.

Jumat malam (27/7/2006) kami berangkat dari Jakarta menumpang kereta api Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya. Sabtu pagi sesampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya kami telah ditunggu oleh Bus Pariwisata yang telah kami charter dari Jakarta untuk mengantarkan kami jalan-jalan selama dua hari itu.

Kejutan pertama kali adalah waktu kami melewati jalan tol Surabaya-Gempol, saat memasuki ruas tol Porong kami telah mendapatkan pemandangan tanggul raksasa disebelah kanan dan kiri jalan. Saat itu ruas tol Porong masih bisa dilalui kendaraan meskipun bekas-bekas luberan lumpur lapindo masih tampak membekas setelah sempat meluber gara-gara tanggul jebol.

Perjalanan dilanjutkan ke kota Malang “Negeri Sejuta Apel” untuk mengunjungai Kusuma Agrowisata Batu. Di ini kita diperbolehkan memetik Apel langsung dari pohonnya. Bukan hanya apel saja yang ada di hamparan wisata agro seluas 10 hektar ini tetapi aneka buah segar siap diunduh macam jeruk dan strawberry. Para pengunjung juga ‘dimanjakan’ dengan melihat tingkah polah kera yang lucu, kijang, kanguru, burung onta, dan hewan lainnya di kebun binatang mini yang berada di kompleks perkebunan ini.

Kami tidak rugi berkunjung ke objek wisata andalan Pemda Jawa Timur (Jatim) ini sebab fasilitas yang diberikan pengelola serba komplet. Bisa makan buah apel langsung memetik dari pohonnya, atau bersantap makanan dengan menu serba buah apel.

Untuk berkunjung di lokasi Kusuma Agrowisata yang terletak di Desa Ngaglik, Kecamatan Batu, Kotatif Batu, Malang, Jatim, itu, memang tidak terlalu sulit. Dari arah selatan Kota Surabaya, lokasi yang berjarak sekitar 90 km ini, bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar satu jam. Objek wisata berhawa sejuk dengan suhu 15-25 derajat celcius (musim kemarau) atau 20-30 derajat celcius (musim hujan). Ini, lantaran lokasi agrowisata tersebut diapit Gunung Arjuna, Panderaman, serta Gunung Anjasmara.

Untuk bisa berkeliling sembari metik sendiri buah apel di kebun langsung, para pengunjung cukup membayar karcis masuk Rp 15.000 per kepala. Dengan ongkos itu para pengunjung masih mendapat pelayanan welcome drink berupa minuman jus yang terbuat dari buah apel.

Buah apel yang dipetik sendiri itu hanya boleh disantap di tempat. Bila pengunjung ingin membawa pulang sebagai buah tangan atau oleh-oleh, bisa membeli dengan harga murah. Untuk jenis apel Wangli yang berasa manis dengan warna hijau kemerah-merahan misalnya, pengunjung cukup mengeluarkan kocek Rp 8.000/kg. Juga untuk buah apel Manalagi dan Anna, hanya cukup membayar Rp 8.500/kg.

Berkunjung di Kusuma Agrowisata dijamin menyenangkan. Promosi tersebut sepertinya memang tidak berlebihan, sebab objek wisata ini pada hari-hari biasa, rata-rata tak kurang 30-an wisatawan, baik lokal maupun mancanegara ke tempat ini. Khusus pada Sabtu dan Minggu pengunjung bisa mencapai 300 sampai 500 orang. Namun bila hari-hari besar atau liburan sekolah, pengunjung bisa mencapai 10.000 hingga 15.000 orang.

Puas jalan-jalan di Malang “Negeri Sejuta Apel” perjalanan kami lanjutkan ke wisata utama tujuan kami Gunung Bromo. Dari Malang kami mengarah ke Probolinggo melewati Pasuruan. Dan sebelum memasuki kota Probolinggo kami berbelok melewati Tongas jalan terpintas menuju Bromo. Sampai akhirnya kami tiba di penginapan yang telah kami booking Grand Bromo Hotel di desa Sukapura. Benar-benar perjalanan seharian yang melelahkan. (Bersambung).

NB:
1. Sengaja tulisan ini dibagi menjadi 2 seri agar pembaca tidak bosen.
2. Tulisan perjalanan wisata ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada calon pelancong yang merencanakan perjalanannya ke kota Malang “Negeri Sejuta Apel”
3. Data geografis dan pendukung teknis lainnya didapat dari berbagai sumber.