Jumat malam (27/7/2006) kami berangkat dari Jakarta menumpang kereta api Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya. Sabtu pagi sesampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya kami telah ditunggu oleh Bus Pariwisata yang telah kami charter dari Jakarta untuk mengantarkan kami jalan-jalan selama dua hari itu.
Kejutan pertama kali adalah waktu kami melewati jalan tol Surabaya-Gempol, saat memasuki ruas tol Porong kami telah mendapatkan pemandangan tanggul raksasa disebelah kanan dan kiri jalan. Saat itu ruas tol Porong masih bisa dilalui kendaraan meskipun bekas-bekas luberan lumpur lapindo masih tampak membekas setelah sempat meluber gara-gara tanggul jebol.
Perjalanan dilanjutkan ke kota Malang “Negeri Sejuta Apel” untuk mengunjungai Kusuma Agrowisata Batu. Di ini kita diperbolehkan memetik Apel langsung dari pohonnya. Bukan hanya apel saja yang ada di hamparan wisata agro seluas 10 hektar ini tetapi aneka buah segar siap diunduh macam jeruk dan strawberry. Para pengunjung juga ‘dimanjakan’ dengan melihat tingkah polah kera yang lucu, kijang, kanguru, burung onta, dan hewan lainnya di kebun binatang mini yang berada di kompleks perkebunan ini.
Kami tidak rugi berkunjung ke objek wisata andalan Pemda Jawa Timur (Jatim) ini sebab fasilitas yang diberikan pengelola serba komplet. Bisa makan buah apel langsung memetik dari pohonnya, atau bersantap makanan dengan menu serba buah apel.
Untuk berkunjung di lokasi Kusuma Agrowisata yang terletak di Desa Ngaglik, Kecamatan Batu, Kotatif Batu, Malang, Jatim, itu, memang tidak terlalu sulit. Dari arah selatan Kota Surabaya, lokasi yang berjarak sekitar 90 km ini, bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar satu jam. Objek wisata berhawa sejuk dengan suhu 15-25 derajat celcius (musim kemarau) atau 20-30 derajat celcius (musim hujan). Ini, lantaran lokasi agrowisata tersebut diapit Gunung Arjuna, Panderaman, serta Gunung Anjasmara.
Untuk bisa berkeliling sembari metik sendiri buah apel di kebun langsung, para pengunjung cukup membayar karcis masuk Rp 15.000 per kepala. Dengan ongkos itu para pengunjung masih mendapat pelayanan welcome drink berupa minuman jus yang terbuat dari buah apel.
Buah apel yang dipetik sendiri itu hanya boleh disantap di tempat. Bila pengunjung ingin membawa pulang sebagai buah tangan atau oleh-oleh, bisa membeli dengan harga murah. Untuk jenis apel Wangli yang berasa manis dengan warna hijau kemerah-merahan misalnya, pengunjung cukup mengeluarkan kocek Rp 8.000/kg. Juga untuk buah apel Manalagi dan Anna, hanya cukup membayar Rp 8.500/kg.
Berkunjung di Kusuma Agrowisata dijamin menyenangkan. Promosi tersebut sepertinya memang tidak berlebihan, sebab objek wisata ini pada hari-hari biasa, rata-rata tak kurang 30-an wisatawan, baik lokal maupun mancanegara ke tempat ini. Khusus pada Sabtu dan Minggu pengunjung bisa mencapai 300 sampai 500 orang. Namun bila hari-hari besar atau liburan sekolah, pengunjung bisa mencapai 10.000 hingga 15.000 orang.
Puas jalan-jalan di Malang “Negeri Sejuta Apel” perjalanan kami lanjutkan ke wisata utama tujuan kami Gunung Bromo. Dari Malang kami mengarah ke Probolinggo melewati Pasuruan. Dan sebelum memasuki kota Probolinggo kami berbelok melewati Tongas jalan terpintas menuju Bromo. Sampai akhirnya kami tiba di penginapan yang telah kami booking Grand Bromo Hotel di desa Sukapura. Benar-benar perjalanan seharian yang melelahkan. (Bersambung).
NB:
1. Sengaja tulisan ini dibagi menjadi 2 seri agar pembaca tidak bosen.
2. Tulisan perjalanan wisata ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada calon pelancong yang merencanakan perjalanannya ke kota Malang “Negeri Sejuta Apel”
3. Data geografis dan pendukung teknis lainnya didapat dari berbagai sumber.