Browse >> Home > Archive by category 'Keluarga'

| Subcribe via RSS

Televisi

December 21st, 2007 | 42 Comments | Posted in Keluarga, Renungan, Teknologi

Televisi adalah souvenir abad 20

TelevisiAnda pasti tahu seperti apa rupa televisi itu. Benda kotak berlayar kaca ini hampir selalu ada di setiap rumah diseluruh penjuru dunia. Saya katakan “hampir selalu ada” karena ternyata ada juga lho yang tidak mempunyai televisi dirumahnya. Saya masih ingat dulu ketika saya kecil kami belum mempunyai pesawat televisi, jadi untuk menonton siaran TVRI kala itu kami selalu menumpang nonton di rumah tetangga yang tergolong kaya di kampung saya. Memang waktu itu pesawat televisi ini termasuk barang mewah, jarang sekali orang mempunyai pesawat televisi ini kalau bukan seorang yang kaya.

Waktu pertama kali mempunyai pesawat televisi hitam putih dirumah, sengaja bapakku memasang kaca berwarna yang clip-on supaya kita bisa melihatnya jadi berwarna. Memang lucu juga sih yang atas berwarna hijau yg tengah kuning kemudian yg bawah berwarnah merah jadi kesannya kita melihat televisi berwarna gitu :D .

Saya teringat waktu tahun 80-an saat siaran pertandingan tinju Muhammad Ali diputar secara langsung di televisi, jalan-jalan begitu sepi bahkan kegiatan sekolah banyak yang diliburkan demi melihat pertandingan tinju yang dilakoni legenda tinju saat itu. setelah itu hampir semua pembicaraan di kantor guru, warung-warung kopi maupun pangkalan becak sekalipun semua membicarakan Muhammad Ali. Benar-benar pengaruh sebuah tontonan televisi saat itu begitu boombastis sampai bisa menghipnotis semua orang tua dan muda dari strata ekonomi terendah sampai yang kaya raya.

Televisi ada di HandphoneSekarang hampir semua rumah memiliki benda kotak berlayar kaca ini, bahkan banyak pula yang mempunyai lebih dari satu. Kamar anak-anak saja sekarang sudah lazim juga dipasangi pesawat televisi, bahkan kalau perlu kamar mandi juga dipasang pesawat televisi. Entah apa karena takut ketinggalan informasi atau takut terlewatkan episode sinetron sampai mobilpun kalau perlu dipasang televisi juga. Yang sekarang lagi tren saat ini handphonepun juga mulai mengakomodasi fasilitas televisi ini.

Terlepas dari masalah perkembangan teknologi nyatanya ada juga orang yang enggan mempunyai televisi meskipun sebenarnya dia mampu membelinya. Direktur pabrik saya dulu mempunyai alasan sederhana kenapa beliau tidak mempunyai pesawat televisi dirumahnya, beliau bilang tidak ingin waktu kebersamaannya di keluarga tersita oleh tontonan yang ditayangkan oleh televisi. Beliau lebih senang bercengkrama akrab dengan anak dan istrinya dirumah, atau kalau perlu nonton film bersama di bioskop favorit mereka sembari jalan-jalan atau refreshing bersama. Untuk informasi terkini cukup koran dan layanan internet saja yang beliau langgan.

Itulah televisi dengan berbagai ragam bentuk dan ukuran serta aneka layanan dan muatan siaran yang tersaji setiap hari. Mutu dan kualitas content silahkan di saring sendiri sesuai dengan keinginan dan selera anda semua. Kalau tidak suka silahkan ambil remote dan ganti channelnya dengan yang anda suka ;)) .

Takut

December 19th, 2007 | 45 Comments | Posted in Keluarga, Renungan
Apa yang kamu takuti sesungguhnya???
Sebenarnya kamu sudah MATI.
Karena kamu takut, hingga kamu tak berani berbuat apa-apa.
Untuk apa hidup, kalau hanya takut, takut, dan takut!!!

Hidup! dan bangkitlah…!
Hidup cuma satu kali, jangan takut, dan jangan sia-siakan.
Saatnya menikmati hidup, dan bahagiakan orang-orang yang kamu sayangi.
Ingat, waktu terus berjalan…..

Tapi aku kok masih takut ya…
Takut meninggalkan zona ini…
Ah.. seandainya zona ini ada disana… 8->

Ini Lebaran

October 17th, 2007 | 15 Comments | Posted in Anekaria, Keluarga, Renungan
PULANGLAH Nak….Ini Lebaran. Begitulah pengharapan semua orang tua pada anak-anaknya dirantau, tak terkecuali dengan harapan orang tua saya. Ya, karena pada saat lebaran inilah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan semua anggota keluarga. Semua anak dan cucunya bisa dilihat dan bisa bermain bersama. Karena selain lebaran sangat sulit sekali mengumpulkan semua anak dan cucunya secara bersama-sama.
Kemudian rombongan keluarga besar ini akan pergi bersama-sama ke saudara tertua yang saya sebut sebagai Pakde atau Bude. Kita ke rumah saudara tertua dari orang tua kita karena beliau adalah pengganti dari Kakek dan Nenek yang telah berpulang terlebih dahulu. Dikeluarga besar ini anggota keluarga bertambah semakin besar karena kebetulan juga berkumpul anak dan cucu dari Pakde dan Bude juga kedatangan keluarga dari kami dan menyusul kemudian dari saudara muda dari orang tua kita atau saya sebut sebagai Paklik dan Bulik beserta anak-anak dan cucunya juga. Jadi bisa dibayangkan ternyata besar juga keluarga dari kakek dan nenek saya. Sering kali kita bergurau bahwa dari dua orang ini (Kakek dan Nenek) kalau semua keluarga dikumpulkan bisa membentuk sebuah parta politik. Tak jarang dari kita ada yang saling tidak mengenal karena memang masing-masing telah disibukkan dengan aktivitasnya sendiri dan sama-sama hidup diperantauan. Juga karena jarangnya intensitas silahturahmi diantara keluarga besar inilah yang menyebabkan kita menjadi saling tidak mengenal.

Lebaran ternyata menyatukan saudara yang telah lama tidak tidak berjumpa. Tak jarang saudara kita ada yang ternyata hidup serantau dengan kita yang sebelumnya kita tidak tahu. Di saat lebaran inilah kita bisa berbagi cerita suka dan duka, tawa dan canda kerap menggema disela percakapan kita, senyum selalu terpancar dari wajah-wajah ramah mereka. Juga tidak ketinggalan beraneka ragam penganan khas daerah kami juga tak lupa dihidangkan. Begitulah suasana lebaran di kampung saya.

Jadi tidak salah kalau setiap lebaran orang tua kita selalu mengharapkan kita untuk pulang. Orang tua kitalah yang mengharapkan silahturahmi dengan keluarga besar tidak terputus. Meskipun terkadang dari kita sendiri yang merasa malas atau beranggapan ada hari lain selain lebaran. Lebaran tidak bisa digantikan dengan hari lain, lebaran tetaplah lebaran dimana semua orang saling bertemu untuk menyambung tali silahturahmi yang hampir padam. Begitulah memaknai lebaran ini.

Images taken from here.

Selamat Ulang Tahun Sayangku….

October 1st, 2007 | 9 Comments | Posted in Keluarga


TAK terasa usia mu bertambah satu
Itu berarti sisa hidupmu berkurang satu tahun…

Ya Allah,
Mohon di jaga kesehatannya…
Mohon di tambahkan ilmunya…
Mohon di beri kekuatan pada dirinya…
Untuk mencapai sebuah kesuksesan dalam hidup…
Untuk tetap selalu semangat memberikan yang terbaik bagi keluarga….
Amiiiin…

“Happy 33th Birthday, my Dear, Helmy Anna Lestari. Wish you all the best!”

Bidadari Kecilku Umur 1 Bulan

September 29th, 2007 | 5 Comments | Posted in Keluarga
APA kabar bidadari kecilku? Sudah sebulan lho umurmu. Dari hari ke hari semakin ndut aja pipimu. Yang bisa kudengar dari HP ini hanyalah suara tangismu yang minta susu karena kehausan. Semoga bundamu semakin sigap memberikanmu ASI. Terima kasih bunda karena telah menjaga para bidadari kecilku, terutama karena si kecil yang kerap membangunkanmu tatkala kehausan dimalam hari.

Sekarang bidadari kecil sudah berumur 1 bulan, semoga tambah sehat dan semakin pintar. Dua minggu lagi ayah pulang, sudah tidak sabar hati ini segera melihat dan menimangmu. Jangan kawatir nanti ayah akan menyanyikan lagu kesukaanmu.

I love you bidadari kecilku.