Listrik
SAYA termasuk generasi yang lahir tahun 70-an, dimana pada saat itu yang namanya listrik masih merupakan barang mewah karena tidak setiap rumah bisa memilikinya menikmatinya. Meskipun kami dulu tinggal diperkotaan tetapi listrik kami masih menumpang tetangga. Tetangga yang abunemen kami membayar separuhnya begitu seterusnya tiap bulan sampai akhirnya rumah kami bisa memiliki listrik sendiri.
Yang lebih parah lagi adalah didesa tempat Mbah saya tinggal, didesa yang letaknya tidak jauh dari PLTA Sutami (bendungan Karang Kates) malah sama sekali tidak ada aliran listrik. Jika liburan sekolah tiba kami bermalam dirumah Mbah. Suasana pedesaan tanpa listrik begitu kentara diwaktu malam tiba. Belum juga jam 8 malam tetapi suasana terasa sepi dan hening, hanya suara jangkrik yang saling bersautan. Tak ada suara musik dangdut yang terdengar dari televisi karena memang tidak ada televisi, lamat-lamat yang terdengar adalah siaran wayang kulit dari RRI di radio transitor milik Mbah Kakung.
Sekarang listrik itu telah ada di desa Jambuwer Kabupaten Malang tempat tinggal Simbah saya. Taraf kehidupan juga cenderung lebih baik sangat kontras dengan jaman kecil saya dulu. Rumah-rumah didesa itu sekarang telah terang oleh cahaya lampu neon bukan lampu petromak lagi. Mereka juga sudah menikmati siaran televisi meskipun dari parabola, karena didaerah pegunungan pemancar televisi tidak bisa menjangkau desa tempat Simbah tinggal. Listrik betul-betul membawa berkah bagi desa, yang sebelumnya bisa dikatakan tertinggal sekarang jadi tambah maju.
Sekarang hampir semua rumah dipenjuru dunia telah bisa menikmati listrik. Bahkan manusia sekarang sudah tidak bisa terlepas akan kebutuhannya dengan yang namanya listrik. Segala peralatan peradapan bumi sudah tergantung dengan listrik. Saat postingan ini dibacapun anda sedang menggunakan listrik. Listrik, ya.. saat ini kita benar-benar telah mempunyai ketergantungan dengannya. Entah nanti… apakah anak cucu kita masih bisa menikmatinya? Karena menurut yang saya baca sumber energi yang dibutuhkan untuk membangkitkan listrik ini berangsur-angsur akan segera habis kalau tidak ada sumber energi alternatif yang lain.
Seperti yang sering kita dengar dari iklan layanan masyarakat:
Nyalakan seperlunya, matikan Selebihnya. Listrik untuk kehidupan yang lebih baik.
*Gambar diatas adalah Proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Lahendong-2 yang telah berhasil menyelesaikan reliability test run pada pertengahan bulan Juni 2007 dan telah diserahterimakan kepada PT PLN pada tanggal 19 Juni 2007.
Tadi siang bayar tagihan listrik…
Naik beberapa puluh ribu dari bulan sebelumnya euy!
*Hmm… Sepertinya akhir2 ini om Totoks sedang bernostalgia dengan masa kecilnya…
Praditya’s last blog post..Saya Bosan?
wuah ngga ada gambar PLTP tempat saya nguli
a’s last blog post..kado indah saya
@praditya: mumpung saya masih ingat jadi sebaiknya diangkat jadi bahan postingan dit
@aprikot: lha ini katanya sedang liburan.. lha kok masih nongkrong disini
yang nuklir itu mas gimana kabarnya…
trus bahann bakar dari air laut itu juga alternatif
kw’s last blog post..selamat natal
wah bulan ini saya belum bayar tagihan listrik, seperti bulan bulan sebelumnya saya biasanya membayar setelah satu hari lewat dari tanggal jatuh tempo, soalnya kalo bayar sebelum jatuh tempo biasa nya antri, males banget kalo di suruh antri
waduh kalau bicara soal listrik ingat kejadian listrik padam, PLN oh PLN
Listrik mati memang bikin kacau… tapi benar juga listrik jadi candu yaa.. candu dunia teknologi…
saya setuju jika ada PLTN atau PLTB (pusat listrik tenaga nafsu) sehubungan banyak orang2 kita yang nafsunya luar biasa (koruptor2)
maaf just kidding
salam kenal
Ohya mas boleh kah dikasih tahu alamat template ini good sekali…
Kurt’s last blog post..Diharuskan Riba
@kw: semoga aja energi alternatif itu segera dapat direalisasikan


salam kenal mas santri
@ayahshiva: lho apa gak didenda mas
@dodot: listrik padam pasti yg disalahkan adalah pasokan bahan bakar penghasil listrik yg terbatas
@Kurt: desain ini saya dapatkan juga gratis kok.. tuh dibawah ada alamatnya
saya blom bayar listrik ama si bapak Kost
btw, panas bumi sebenarnya bisa dioptimalkan, karena resources nya masih banyak,.. sudah waktunya melepaskan ketergantungan ama minyak - bt bara untuk kebutuhan satu ini.
Jadi teringat postingan manusiasuper tentang listrik di kalimantan… Paradoks, pulau dengan sumber energi bt bara terbesar, tetapi listriknya jepret2 tiap malam..
leksa’s last blog post..Waktu dan Mimpi
kenapa PLN rugi terus ya Om? padahal pelanggannya terus bertambah..
evan’s last blog post..Pengen bukan kafe rakyat
@leksa: mungkin sama dengan perumpamaan “Tikus mati dilumbung padi”
@evan: mungkin karena subsidinya masih terlalu besar kali hehehe
manusia selalu ingin terang, namun kadang ingin gelap jika sedang berduaan..just kidding.
kayaknya listrik hanya merata di pulau jawa..buktinya di tempat om Borneo, ada desa yang belum masuk listrik..untung dah otonomi jadi sekarang bisa terang juga walau masih bertahap pemasangannya
@oom: saya yakin diluar sana ternyata masih banyak yg belum menikmati listrik
Saat tahun 70 an rumahku sudah ada listrik, tapi rata-rata orang hanya menggunakan daya 500 watt, sekedar bisa menggunakan setrika listrik. Namun keluargaku belum mampu, jadi cuma 150 watt, kalau setrika masih pake arang, setrikanya dibawahnya pake daun pisang.
Memasaknya pake kompor minyak tanah, tapi karena dekat rumah ada penggergajian kayu, keluargaku bisa beli avalan bekas kayu yang diolah, lumayan apinya cepat besar. Kalau pagi hari, dingin, hari libur, anak-anak nongkrong didepan api (sambil pura-pura monitor agar api tak padam)…sambil membakar ketela, pisang dll yang merupakan hasil kebun sendiri.
Dirumah eyang yang th 70 an jalanannya berdebu, dan becek kalau hujan, akhir tahun 80 an telah beraspal mulus dan ada listrik. Akibatnya anak-anak tetangga eyang tergiur keluar kota, padahal kemampuannya belum cukup. Disetiap kemajuan, selalu ada risiko…dan ada orang-orang yang tertinggal
edratna’s last blog post..Bagaimana pengelolaan keuangan anda pada tahun 2007?
kayaknya diluar jawa masih banyak desa yg blom masuk listrik deh mas, salah satunya t4 ortu saya tinggal di riau sana, dari jaman saya lahir, kami & masyarakat desa pada umumnya terpaksa beli mesin diesel sendiri2 & dinyalakan hanya pd malam hari aja karna boros bbm, br beberapa bulan lalu dapat info kl skr sdh masuk listrik, cuman ini dikelola swasta & nyalanya pun hanya dari sore sampe pagi ajah..padahal jarak 11 km dr situ udah masuk listrik dr jaman batu
Cuman kadang2 ngangenin jg tidur pake lampu teplok itu..he..
yolla’s last blog post..Baju Baru..
Kayaknya kemaren aku udah kasih komen, apa aku lupa ya? yg jelas.. aku lahir di atmosfer udah berlistrik, apa2 gampang, tapi pernah kosku mati lampu.. itu mati kutu banget mas.. Tugas2 gak bisa dikumpulin, gak bisa ngenet, mo mandi takut karena gelap, hihihihi.. Jadi moga2 aja orang2 pedaleman bisa nikmatin listrik, demi masa depan yg leih baik. AMin..
titiw’s last blog post..Joomla!
Dua bulan terakhir listrik di rumah naik sampe 200 persen dari biasanya
lagi mau ditanya
landy’s last blog post..” KEMAJUAN JAMAN “
@endratna: mengenang juga ya bu


@yolla: pasti masih banyak
@titiw: ini komenmu satu2nya kok.. gak ada yg lain
@landy: salah catat meter kali mas petugasnya
Aku suka tulisan seperti ini … dekat dengan kehidupan, menyentuh semua orang, dan … jadi bahan renungan. Salam.
Ersis WA’s last blog post..Lomba Menulis, Tembus 100 peserta.
saya juga, berada ditengah-tengah kota malah nggak ada PDAM, parah!!!
maap baru sempet mampir ke blog ini..
saya jadi inget rumah temen se-gank SMA saya dulu. rumahnya di pelosok desa di Kabupaten Karanganyar, di kaki gunung Lawu..
ndak ada listrik di desa itu, yang unik.. ada listrik dengan menggunakan batere untuk lampu di malam hari, yang untuk mengisi batere tersebut menggunakan sepeda bekas yg dimodifikasi menjadi pembangkit listrik tenaga genjotan..
unik banget.. sayang saya belum ngeblog saat itu.. wakakaka
menurut informasi terakhir, di desa tempat teman saya itu kini sudah ada listriknya..
@Ersis WA: masih belajar nulis terus ini Mas.. makasih sarannya

@peyek: seperti tikus yang mati dilumbung padi yo mas
@zam: coba ada fotonya zam.. pasti dah masuk postingan berikutnya tuh
Saya termasuk yg lahir angkatan 8:an,juga orang dari desa pelosok om,baru SMP bisa merasakan yg namanya listrik itu.jadi kalo belajar pake dimar ublik.hikhikhik. Masalah energi yg dikonsumsi utk listrik memang polemik karena sebagian besar memakai minyak bumi yg semakin lama makin menipis.sebagai konsumen,kita memang perlu penghematan sekecil mungkin.PLN juga perlu mencari alternatif sumber energi.
lha, waktu itu henpon, kemaren tivi, sekarang listrik, besok mau cerita apa lagi mas?
venus’s last blog post..ada yang natalan?
@mr.bambang: jadi pakailah listrik secara wajar saja gitu ya pak.. gak boleh berlebihan
@venus: yg henpon itu mas iman
huuu kata temenkuyg kerja di PLN…..orang2 PLN sendiri malah boros2 ama listrik :o so kenapa kita yg harus disuruh mengehmat
hehe..tp ya bener juga, kl berkaca pada isu global warming maka kita harus bersiap dari sekarang dan salah satunya dengan menggunakan listrik secara hemat.
@ekowanz: selain hemat bayarnya persediaan listriknya bisa kita sisakan kepada anak cucu kita lho
mas, gimana yang nyuri listrik, terutama kalangan industri itu loohh!
@gempur: lha yg nyuri ya dibilangin aja jgn nyuri gitu
kalau bandel ya sudah kan ada pak pulisi mas
alhamdulillah saya dr lahir gak pernah kesusahan dalam listrik…iyalah saya lahir tahun 80 an…
menurut saya..kalo biaya rekening listrik yg mahal saat sekarang ini…saya rasa pelan2 orang2 juga mengirit sendiri…
jadi ingat waktu saya dijerman dulu, bayar listrik mahala banget perbulannya…jd tau bagaimana hrs ngirit… lagian jaman sekarangkan udah ada ..sperti lampu yg hemat listrik, elektronik2 yg hemat listrik…
tapi itu smua tergantung gaya hidup yah…banyak juga rumah2 orang2 kaya..yg keliatan kelap lampunya ….ckckckckk..biar lah..namanya juga orang kaya…sirik banget aku..heheheheh
icha’s last blog post..PeRHiasaN eMas
@icha: tarifnya beda kok antara yg pemakaian rumah dgn industri, rumah pun dibedakan berdasarkan tegangan yg di langgan semakin besar semakin mahal
ho oh, hemat lah listrik..nyalakan seperlunya..
Meskipun saya lahir tahun 80, tapi masih merasakan era tanpa listrik tapi di rumah kakek saya (bukan rumah ortu saya). Petromaks dan senthir (bhs jawa) menemani nyanyian jangkrik
andrias ekoyuono’s last blog post..Ramainya Majalah Ibu, Bayi dan Balita
@cempluk: hemat.. karena harus ada yg kita sisakan untuk anak cucu kita kelak mpluk
@andrias ekoyuono: mungkin nanti orang akan pake senthir dan mendengar suara jangkrilk karena begitu damai rasanya
postingan-nya di sponsori PLN ya om..????
*bakar PLN*
@escoret: huahahaha… sponsornya pabrik setrum ki mas.. tak strum modyar koen
Yah sekarang orang pasang didaerahku minimal 1300 watt karena kebutuhan konsumsi yang tinggi. Nasib kenaikan tarif listrik selalu melambung tinggi nggak pernah menukik turun. Nah kalo nggak segera mengimplementasikan energi listrik alternatif, bisa-bisa anak cucu kebagian pemadaman berkala
wow,generasi 70’s ternyata,.,sayah 80’s pak, eniwei moga2 dimasa mendatang,inet bener2 bisa merata diseluruh endonesa sama kek listrik
ika’s last blog post..Sop Buntut Bu Leman Pekalongan
Hmmm…
Sepertinya akhir-akhir ini manusia semakin tergantung sama listrik ya….
Salut deh buat yang nemuin listrik..
Salut juga buat yang nulis post ini
Nazieb’s last blog post..New Life!!! Cerita Mudik part 1
@pututik: sekarang tambah mahal.. makanya kudu dihemat ya

@ika: setuju.. dan tentu saja jangan mahal2 ya
@Nazieb: salut buat yang baca juga
kok jadi teringat pas liostrik mati ya …. sengsara sekali nggak bisa nonton TV
Ely Meyer’s last blog post..Palsu vs Asli
thn 85 di Jakarta pinggiran pun saya masih ngrasain yg namanya listrik masuk desa… pasti ga percaya yah?
secara ini kejadian nyata, bahwa di jakarta th 80-an saya masih merasakan rumah mungil si Babeh pk lampu tempel yg bikin idung cemong, kadang pk patromaks juga biar terang gemebyar, ambil aer pk pompa dragon kadang di sumur bambu… halaaah koq malah jadi curhat
novee’s last blog post..Tahun baru 2008…! *ada yg pergi, ada yg datang…*
Saya dulu kerja di PLTA Sutami, Karangkates. Kadang ada ironi yang lucu;di saat tahun kemarin Indonesia (baca:jawa-bali) mengalami krisis kelistrikan, desa karangkates yang notabene memiliki PLTA Sutami, malah sering menjadi korban pemadaman juga.padahal PLTA Sutami masih beroperasi 24 jam.hehehe.maklumlah, bukan daerah industri..
Just info: Sutami HEPP has Sengguruh HEPP as it’s upstream cascadial HEPP system. Unfortunately, Sengguruh currently suffers sedimentation problem in it’s dam. Just in a few years, if the rate of sedimentation keeps going, the Sengguruh HEPP won’t be able to operate and eventually the downstream line (sutami) will suffer the same problem.
What can we do?
CLEAN OUR RIVERS! STOP LITTERING IN THE RIVERS! PROMOTE TREES PLANTING!
Setuju.. mari kita budayakan hemat listrik
I’m reading a very good post and you did write a very nice post. How relaxing for me to read such post like this. I hope to see more post from you. Thank you very much.
This is exciting to read, very educational and lots of good ideas for me to remember. Cannot wait to read your other posts. Thanks!!!