Browse >> Home > Perjalanan > Wisata "Negeri Diatas Awan Gunung Bromo" (2)

| Subcribe via RSS

Wisata "Negeri Diatas Awan Gunung Bromo" (2)

November 23rd, 2007 Posted in Perjalanan
SETELAH seharian berwisata agro di “Negeri Setuja Apel” sabtu (28/7/2006) kami meneruskan perjalanan kami ke Bromo. ADA beberapa pilihan rute mencapai Bromo. Yang paling populer, melalui Probolinggo. Alternatif lain menuju Penanjakan adalah melalui Wonokitri di barat laut Bromo yang bisa dicapai dari Malang atau Pasuruan, atau melalui Lumajang di tenggara Bromo. Pilihan terakhir ini jarang dilakukan karena jalan sulit dilalui.
Kami sengaja mengambil rute melalui Probolinggo karena kami menggunakan Bus Pariwisata yang tidak memungkinkan melalui jalur Wonokitri yang sempit dan berliku itu. Begitu berbelok ke kanan dari arah Surabaya-Probolinggo sebelum memasuki kota atau yang dikenal dengan Tongas jalan mulai menanjak dan berkelok, tetapi beraspal mulus hotmix. Jam 19.00 kami telah sampai di Grand Bromo Hotel Desa Sukapura yang masih berada di wilayah Kabupaten Probolinggo. Penginapan ini termasuk salah satu hotel berbintang terbaik di Probolinggo. Sebenarnya anda bisa juga memilih penginapan di Desa Ngadisari atau Desa Cemoro Lawang. Desa-desa ini adalah sebagian kecil dari desa-desa lain yang dihuni oleh masyarakat Tengger.

Meskipun hotel penginapan kami agak jauh dari Gunung Bromo tetapi hawa dinginnya teramat menusuk sampai ketulang, pantesan kami tidak menemui Air Condition yang biasanya menjadi fasilitas pelengkap hotel berbintang. Petugas hotel memberitahukan kepada kami untuk bersiap di lobby jam 03.00 karena matahari akan muncul sekitar jam 05.00. Pakaian pun harus cukup tebal karena suhu di Penanjakan bisa mencapai lima derajat Celsius atau kurang. Perjalanan ke Penanjakan hanya boleh menggunakan jip Toyota four-wheel drive milik penduduk Tengger yang memang disewakan untuk keperluan ini. Alasannya, jalan menanjak terjal dan perjalanan malam hari bisa merepotkan untuk yang tak mengenal jalan di sana. Sebelum istirahat kami menyempatkan untuk nongkrong dulu di lobby lounge sembari menukarkan kupon welcome drink kami dengan segelas minuman hangat bandrek yang bisa menghangatkan badan.

Jam 03.00 kami semua telah siap di lobby. Ternyata rombongan kami tidak sendirian terlihat beberapa rombongan turis asing juga telah bersiap untuk “Berburu Matahari Bromo” bersama rombongan tamu domestik lainnya. Dengan pelupuk mata masih berat, kami berangkat naik jip sewaan. Secara beriringan kami menyusuri jalan tanjakan yang berliku, tak jarang pengemudi yang asli orang Tengger itu mengoper perseneleng ke gigi yang lebih rendah. Seperti juga rata-rata jip hardtop lainnya, jip yang kami naiki terawat sangat baik meskipun buatan akhir tahun 1970-an, sehingga tanjakan curam dia libas dengan mudah.

Jalanan gelap, berkelok-kelok, dan terus menanjak. Sepanjang jalan kami tidak berpapasan dengan kendaraan lain, meskipun beberapa kali jip kami saling susul. Sekitar satu jam kemudian kami mulai memasuki lautan pasir. Pengemudi kami memilih rutenya sendiri, tidak mengikuti batu-batu putih penunjuk jalan yang tersusun di atas pasir. Terlihat satu-dua rombongan orang berjalan kaki, ada juga yang naik kuda, mengikuti petunjuk batu-batu putih. dari kejauhan terlihat satu-satu sorot lampu mobil, menandakan ada beberapa orang yang bertujuan sama seperti kami.

Sampailah kami di dataran tertinggi Penanjakan. Sayang tempat yang disediakan di Penanjakan untuk menyaksikan terbitnya Matahari terlalu sempit, sehingga setiap orang berjubelan berusaha mencari tempat terbaik. Semua telah siap menodongkan kameranya kearah pegunungan, moncong-moncong kamera itu sudah tidak sabar menunggu moment terbitnya sang Matahari diufuk timur. Begitu moment yang ditunggu muncul semua pengunjung bersorak bahkan sampai bertepuk tangan. Saya tak bisa menyembunyikan kegembiraan saya karena memang sebelunya tidak pernah menyaksikan langsung penguasa siang itu datang.

Perlahan matahari mulai bergerak semakin tinggi, menurut saya pemandangan kali ini lebih menyedapkan mata. Sejauh mata memandang yang tampak adalah kombinasi antara sinar Matahari pagi dan kabut yang mengambang di lereng Gunung Batok, Bromo, dan Kursi dengan latar belakang Gunung Semeru. Betul-betul pemandangan dramatis serasa kita berada di “Negeri Diatas Awan”.

Setelah puas menikmati pemandangan gunung Bromo dari dataran tertinggi kita segera meneruskan perjalanan lagi menuju gunung Bromo. Jip kami bergerak turun dari Penanjakan dan kembali melintasi lautan pasir. Pada pagi hari semua terlihat jelas dan sejauh mata memandang tampak lautan pasir dan puncak-puncak gunung. Mungkin disinilah film Pasir Berbisik yang dibintangi Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo di buat. Di dekat kuil yang digunakan untuk upacara Kesada di kaki Bromo, kendaraan berhenti. Perjalanan selanjutnya adalah menuju kawah Bromo. Sampai disini kita musti jalan kaki atau naik kuda menuju ke kaki tangga.

Perjalanan dengan naik kuda sangat menegangkan buat saya karena selain jalanannya terjal dan mendaki kebetulan saya juga tidak biasa berkuda, biasanya berMio hehe.. dasar katrok saya wong ndeso. Tidak perlu waktu lama kami telah sampai di kaki tangga. Lho kok gunung ada tangganya toh. Mungkin supaya pelancong bisa mudah mendaki gunung makanya dibuatlah tangga itu. Gitu aja kok repot. Bila selama ini praktis kami tidak perlu terlalu banyak menggerakkan fisik, maka mendaki 245-an anak tangga merupakan ujian (tidak pernah ada yang sepakat tentang jumlah anak tangga ini, tetapi kira-kira antara 240-250 anak tangga). Tetapi, kemudian ini pun hal yang bisa dikompromikan karena semua orang berhenti setiap kali merasa lelah. Hanya anak muda yang merasa tidak sabar pada barisan yang bergerak lambat yang menggunakan tangga turun untuk naik ke atas dengan cepat.

Mulut kawah tidak terlalu luas, tetapi mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat. Menurut cerita setiap upacara Kasada aneka hasil bumi dan unggas dilempar kemulut kawah, namun dibawah bibir kawah telah banyak orang yang siap berebut menangkap aneka persembahan tersebut yang berharap sebagai berkah.

Setelah puas menikmati atraksi Matahari terbit dan keindahan “Negeri Diatas Awan” lalu bercanda dengan “Pasir Berbisik” tiba saatnya kami untuk turun gunung. Jam telah mununjuk angka 8.30 pagi sesuai kesepakatan kami untuk berkumpul kembali di jip masing-masing. Ketika kembali ke Sukapura, baru terlihat bahwa di kiri-kanan jalan yang kita lewati adalah lereng-lereng terjal, selain jurang, yang sebagian besar ditanami tanaman sayur oleh penduduk.


Dari Grand Bromo Hotel di Sukapura setelah menikmati sarapan pagi kami langsung checkout dan bus kami segera tancap gas menuju ke Bandara Juanda Surabaya. Disana sudah menunggu pesawat dengan tempat duduk seperti angkot, siapa cepat dia dapat cendela. Bener-bener wong ndeso semua, kami berlarian menuju pesawat Air Asia berlomba mendapatkan tempat duduk dekat jendela, biar bisa melihat gunung dari atas awan. Maka kembalilah kami di kehidupan normal kami di Jakarta sebagai buruh pabrik roti.

NB:
1. Semua foto diambil dengan kamera digital abal-abal dengan resolusi maximum 3.2 Mega Pixel
2. Setelah kunjungan kami ke Grand Bromo Hotel saya mendengar kabar bahwa sekarang hotel itu telah tutup untuk sementara waktu karena tingkat hunian dan kunjungan wisatawan ke Bromo turun disebabkan oleh akses jalan di Porong terendam lumpur.

RSS feed | Trackback URI

38 Comments »

Comment by Praditya INDONESIA

Iiihhh… Kereen!

Saya suka foto yg ketiga dari bawah ntu…

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@praditya: itu foto pas kita bersiap mau turun gunung :D

 
Comment by Anang INDONESIA

fotonya yang ada awannya itu saya suka… keren banget…. seperti terbang di angkasa….

 
Comment by ichaAwe INDONESIA

wah bener2 indah banget yah… aku jadi bener2 pengen kesana.Insya Allah dikabulin .amiin

 
Comment by venus INDONESIA

berapa puluh taun saya gak ke bromo, ya? dulu waktu SMP dan SMA, bisa dibilang seminggu sekali saya ke bromo. lha bapak saya dinesnya di sukapura :D

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@Anang: seperti “Negeri diatas awan” bukan ? hihihi..

@ichaAwe: harus kesana… saya itu yang ke 5 kali mbak hehehe… saking indahnya gak mbosenin

@venus: kebayang deh dulu pas tinggal di sukapura.. pasti gak punya sepeda ontel.. lha wong jalannya tanjakan semua hehehe…

 
Comment by Anang INDONESIA

dimana kedamean menjadi istananya.. wuah rumahku itu… :)

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@Anang : hehehe… punya Gog Bless :)

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@Anang: maksudnya god bless nya Ahmad Albar

 
Comment by david santos INDONESIA

Hello, Totok, great work, thank you and have a good weekend

 
Comment by nieznaniez INDONESIA

ketika langit biru dan oranye ibu berpadu, indah sekali yah…

dulu banget aku juga pernah ke bromo. waktu ke gurunnya, aku poto sama kuda. mas totok ga poto sama kuda juga ?? pasti kan mas totok kangen banget sama sodara kembarnya. ihihhiii…piss, mas…

 
Comment by aLe INDONESIA

bertahun2 aLe di Malang tp blm prnah ke bromo *ngiler.com*

 
Comment by CempLuk INDONESIA

asik euy ke bromo.kalo malem dingin, klo siang sejuk..mas totok, invite aku jadi jaiku’ers dunk..

 
Comment by siska INDONESIA
 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@david santos: hello Pak David :D

@nieznaniez: foto kok sama sodara sendiri malu ah :p

@aLe: jangan terlalu sibuk kuliah.. sempatkan jalan2 po

@cempluk: wis tak invite

@siska: jadi kapan?

 
Comment by ekowanz INDONESIA

saya selalu suka baca perjalanan2 orang..dan akhirnya selalu pengen nyoba kesana..
tapi ga pernah kesampaian :(( dari dulu loh itu :(( apa karena keinginan saya kurang kuat yah?

 
Comment by Hedi INDONESIA

Ketemu bule pake celana pendek dan cuma kemulan kaen bali ga, mas… sial banget aku ketemu model gitu pas suhu 4 derajat jam 4 pagi, kita menggigil eh dia pake celana pendek hahaha

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@ekowanz: kemungkinan keinginanmu kurang kuat kali :D

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@hedi: walah kok sakti tenan bule itu yo..

 
Comment by elly.s INDONESIA

jalan2 mulu mas..ikutan dong…

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@elly.s: itu satu rangkaian acara kok cuman dibikin 2 episode :D

 
Comment by peyek INDONESIA

Bromo, keren…
jadi inget sma dulu
wah jadi inget galih dan ratna, jadul ya…

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA
 
Comment by aVank INDONESIA

yang antrian manusia tu pas banget

 
Comment by aLe INDONESIA

iya deh,
kpn2 t coba maen kesana jg :D

 
Comment by Ani INDONESIA

Poto Bromonya keren banget euyyy..

 
Comment by NN INDONESIA

APotonya keren -keren mas , hebat

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@aVank: capek lho naik tangga 240an apalagi nafas sambil menghirup aroma belerang

@aLe: hehehe.. dari malang dah deket banget Le..

@Ani: Semua yg dari Bromo pasti foto2nya juga bagus kok

@NN: Seepp.. Thx

 
Comment by - Nilla - INDONESIA

wah, itu ga capek mas, jalan kaki segitu jauhnya?
pemandangan di sana indah bgt, ya?
apalagi Negri di Atas Awan itu!
hmmmm… kapan ya aku ke sana?

 
Comment by GHATEL INDONESIA

Aku wong Jawa Timur lo mas, tapi sa’umur-umur blm tw ke Gunung Bromo, sumpah deh…!!

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@nilla: keindahannya mengalahkan kecapean kita

@ghatel: lha wong jawatimur kok gak pernah ke mari toh.

 
Comment by Pinkina INDONESIA

membaca tulisan’e sampeyan seakan2 aku mengulangi perjalanan masa lalu
(thn 2005) memang bener2 indah :)

 
Comment by -Fitri Mohan- INDONESIA
 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@pinkina: kalau cuaca bagus semuanya jadi indah

@fitri mohan: itu diambil dengan camdig biasa kok.

 
Comment by kenny INDONESIA

iya fotonya keren2 kayak profesional aja hasilnya

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@kenny: gak perlu profesional kalo tuk ngambil foto2 bromo pasti hasilnya indah

 
Comment by ndahdien INDONESIA

kasian… pengusaha pariwisata di bromo ternyata kena imbas lumpur porong juga, padahal bromo cantik banget.

 
Comment by Totok Sugianto INDONESIA

@ndahdien: dampak lumpur lapindo betul2 terasa sampai ke sektor wisata smoga bisa segera diatasi

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
Website

Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post