Wisata "Negeri Diatas Awan Gunung Bromo" (2)
Meskipun hotel penginapan kami agak jauh dari Gunung Bromo tetapi hawa dinginnya teramat menusuk sampai ketulang, pantesan kami tidak menemui Air Condition yang biasanya menjadi fasilitas pelengkap hotel berbintang. Petugas hotel memberitahukan kepada kami untuk bersiap di lobby jam 03.00 karena matahari akan muncul sekitar jam 05.00. Pakaian pun harus cukup tebal karena suhu di Penanjakan bisa mencapai lima derajat Celsius atau kurang. Perjalanan ke Penanjakan hanya boleh menggunakan jip Toyota four-wheel drive milik penduduk Tengger yang memang disewakan untuk keperluan ini. Alasannya, jalan menanjak terjal dan perjalanan malam hari bisa merepotkan untuk yang tak mengenal jalan di sana. Sebelum istirahat kami menyempatkan untuk nongkrong dulu di lobby lounge sembari menukarkan kupon welcome drink kami dengan segelas minuman hangat bandrek yang bisa menghangatkan badan.
Jam 03.00 kami semua telah siap di lobby. Ternyata rombongan kami tidak sendirian terlihat beberapa rombongan turis asing juga telah bersiap untuk “Berburu Matahari Bromo” bersama rombongan tamu domestik lainnya. Dengan pelupuk mata masih berat, kami berangkat naik jip sewaan. Secara beriringan kami menyusuri jalan tanjakan yang berliku, tak jarang pengemudi yang asli orang Tengger itu mengoper perseneleng ke gigi yang lebih rendah. Seperti juga rata-rata jip hardtop lainnya, jip yang kami naiki terawat sangat baik meskipun buatan akhir tahun 1970-an, sehingga tanjakan curam dia libas dengan mudah.
Jalanan gelap, berkelok-kelok, dan terus menanjak. Sepanjang jalan kami tidak berpapasan dengan kendaraan lain, meskipun beberapa kali jip kami saling susul. Sekitar satu jam kemudian kami mulai memasuki lautan pasir. Pengemudi kami memilih rutenya sendiri, tidak mengikuti batu-batu putih penunjuk jalan yang tersusun di atas pasir. Terlihat satu-dua rombongan orang berjalan kaki, ada juga yang naik kuda, mengikuti petunjuk batu-batu putih. dari kejauhan terlihat satu-satu sorot lampu mobil, menandakan ada beberapa orang yang bertujuan sama seperti kami.
Sampailah kami di dataran tertinggi Penanjakan. Sayang tempat yang disediakan di Penanjakan untuk menyaksikan terbitnya Matahari terlalu sempit, sehingga setiap orang berjubelan berusaha mencari tempat terbaik. Semua telah siap menodongkan kameranya kearah pegunungan, moncong-moncong kamera itu sudah tidak sabar menunggu moment terbitnya sang Matahari diufuk timur. Begitu moment yang ditunggu muncul semua pengunjung bersorak bahkan sampai bertepuk tangan. Saya tak bisa menyembunyikan kegembiraan saya karena memang sebelunya tidak pernah menyaksikan langsung penguasa siang itu datang.
Perlahan matahari mulai bergerak semakin tinggi, menurut saya pemandangan kali ini lebih menyedapkan mata. Sejauh mata memandang yang tampak adalah kombinasi antara sinar Matahari pagi dan kabut yang mengambang di lereng Gunung Batok, Bromo, dan Kursi dengan latar belakang Gunung Semeru. Betul-betul pemandangan dramatis serasa kita berada di “Negeri Diatas Awan”.
Setelah puas menikmati pemandangan gunung Bromo dari dataran tertinggi kita segera meneruskan perjalanan lagi menuju gunung Bromo. Jip kami bergerak turun dari Penanjakan dan kembali melintasi lautan pasir. Pada pagi hari semua terlihat jelas dan sejauh mata memandang tampak lautan pasir dan puncak-puncak gunung. Mungkin disinilah film Pasir Berbisik yang dibintangi Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo di buat. Di dekat kuil yang digunakan untuk upacara Kesada di kaki Bromo, kendaraan berhenti. Perjalanan selanjutnya adalah menuju kawah Bromo. Sampai disini kita musti jalan kaki atau naik kuda menuju ke kaki tangga.
Perjalanan dengan naik kuda sangat menegangkan buat saya karena selain jalanannya terjal dan mendaki kebetulan saya juga tidak biasa berkuda, biasanya berMio hehe.. dasar katrok saya wong ndeso. Tidak perlu waktu lama kami telah sampai di kaki tangga. Lho kok gunung ada tangganya toh. Mungkin supaya pelancong bisa mudah mendaki gunung makanya dibuatlah tangga itu. Gitu aja kok repot. Bila selama ini praktis kami tidak perlu terlalu banyak menggerakkan fisik, maka mendaki 245-an anak tangga merupakan ujian (tidak pernah ada yang sepakat tentang jumlah anak tangga ini, tetapi kira-kira antara 240-250 anak tangga). Tetapi, kemudian ini pun hal yang bisa dikompromikan karena semua orang berhenti setiap kali merasa lelah. Hanya anak muda yang merasa tidak sabar pada barisan yang bergerak lambat yang menggunakan tangga turun untuk naik ke atas dengan cepat.
Mulut kawah tidak terlalu luas, tetapi mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat. Menurut cerita setiap upacara Kasada aneka hasil bumi dan unggas dilempar kemulut kawah, namun dibawah bibir kawah telah banyak orang yang siap berebut menangkap aneka persembahan tersebut yang berharap sebagai berkah.
Setelah puas menikmati atraksi Matahari terbit dan keindahan “Negeri Diatas Awan” lalu bercanda dengan “Pasir Berbisik” tiba saatnya kami untuk turun gunung. Jam telah mununjuk angka 8.30 pagi sesuai kesepakatan kami untuk berkumpul kembali di jip masing-masing. Ketika kembali ke Sukapura, baru terlihat bahwa di kiri-kanan jalan yang kita lewati adalah lereng-lereng terjal, selain jurang, yang sebagian besar ditanami tanaman sayur oleh penduduk.
Dari Grand Bromo Hotel di Sukapura setelah menikmati sarapan pagi kami langsung checkout dan bus kami segera tancap gas menuju ke Bandara Juanda Surabaya. Disana sudah menunggu pesawat dengan tempat duduk seperti angkot, siapa cepat dia dapat cendela. Bener-bener wong ndeso semua, kami berlarian menuju pesawat Air Asia berlomba mendapatkan tempat duduk dekat jendela, biar bisa melihat gunung dari atas awan. Maka kembalilah kami di kehidupan normal kami di Jakarta sebagai buruh pabrik roti.
NB:
1. Semua foto diambil dengan kamera digital abal-abal dengan resolusi maximum 3.2 Mega Pixel
2. Setelah kunjungan kami ke Grand Bromo Hotel saya mendengar kabar bahwa sekarang hotel itu telah tutup untuk sementara waktu karena tingkat hunian dan kunjungan wisatawan ke Bromo turun disebabkan oleh akses jalan di Porong terendam lumpur.
Iiihhh… Kereen!
Saya suka foto yg ketiga dari bawah ntu…
@praditya: itu foto pas kita bersiap mau turun gunung
fotonya yang ada awannya itu saya suka… keren banget…. seperti terbang di angkasa….
wah bener2 indah banget yah… aku jadi bener2 pengen kesana.Insya Allah dikabulin .amiin
berapa puluh taun saya gak ke bromo, ya? dulu waktu SMP dan SMA, bisa dibilang seminggu sekali saya ke bromo. lha bapak saya dinesnya di sukapura
@Anang: seperti “Negeri diatas awan” bukan ? hihihi..
@ichaAwe: harus kesana… saya itu yang ke 5 kali mbak hehehe… saking indahnya gak mbosenin
@venus: kebayang deh dulu pas tinggal di sukapura.. pasti gak punya sepeda ontel.. lha wong jalannya tanjakan semua hehehe…
dimana kedamean menjadi istananya.. wuah rumahku itu…
@Anang : hehehe… punya Gog Bless
@Anang: maksudnya god bless nya Ahmad Albar
Hello, Totok, great work, thank you and have a good weekend
ketika langit biru dan oranye ibu berpadu, indah sekali yah…
dulu banget aku juga pernah ke bromo. waktu ke gurunnya, aku poto sama kuda. mas totok ga poto sama kuda juga ?? pasti kan mas totok kangen banget sama sodara kembarnya. ihihhiii…piss, mas…
bertahun2 aLe di Malang tp blm prnah ke bromo *ngiler.com*
asik euy ke bromo.kalo malem dingin, klo siang sejuk..mas totok, invite aku jadi jaiku’ers dunk..
wah, pengen ke bromo juga!!!
@david santos: hello Pak David
@nieznaniez: foto kok sama sodara sendiri malu ah
@aLe: jangan terlalu sibuk kuliah.. sempatkan jalan2 po
@cempluk: wis tak invite
@siska: jadi kapan?
saya selalu suka baca perjalanan2 orang..dan akhirnya selalu pengen nyoba kesana..
dari dulu loh itu
apa karena keinginan saya kurang kuat yah?
tapi ga pernah kesampaian
Ketemu bule pake celana pendek dan cuma kemulan kaen bali ga, mas… sial banget aku ketemu model gitu pas suhu 4 derajat jam 4 pagi, kita menggigil eh dia pake celana pendek hahaha
@ekowanz: kemungkinan keinginanmu kurang kuat kali
@hedi: walah kok sakti tenan bule itu yo..
jalan2 mulu mas..ikutan dong…
@elly.s: itu satu rangkaian acara kok cuman dibikin 2 episode
Bromo, keren…
jadi inget sma dulu
wah jadi inget galih dan ratna, jadul ya…
@peyek: lha sma lapo cak?
yang antrian manusia tu pas banget
iya deh,
kpn2 t coba maen kesana jg
Poto Bromonya keren banget euyyy..
APotonya keren -keren mas , hebat
@aVank: capek lho naik tangga 240an apalagi nafas sambil menghirup aroma belerang
@aLe: hehehe.. dari malang dah deket banget Le..
@Ani: Semua yg dari Bromo pasti foto2nya juga bagus kok
@NN: Seepp.. Thx
wah, itu ga capek mas, jalan kaki segitu jauhnya?
pemandangan di sana indah bgt, ya?
apalagi Negri di Atas Awan itu!
hmmmm… kapan ya aku ke sana?
Aku wong Jawa Timur lo mas, tapi sa’umur-umur blm tw ke Gunung Bromo, sumpah deh…!!
@nilla: keindahannya mengalahkan kecapean kita
@ghatel: lha wong jawatimur kok gak pernah ke mari toh.
membaca tulisan’e sampeyan seakan2 aku mengulangi perjalanan masa lalu
(thn 2005) memang bener2 indah
mas, foto2mu keren2 sekali…
@pinkina: kalau cuaca bagus semuanya jadi indah
@fitri mohan: itu diambil dengan camdig biasa kok.
iya fotonya keren2 kayak profesional aja hasilnya
@kenny: gak perlu profesional kalo tuk ngambil foto2 bromo pasti hasilnya indah
kasian… pengusaha pariwisata di bromo ternyata kena imbas lumpur porong juga, padahal bromo cantik banget.
@ndahdien: dampak lumpur lapindo betul2 terasa sampai ke sektor wisata smoga bisa segera diatasi
Saya punya rencana pingin ke Gunung Bromo sekitar bulan Desember, tapi aku gak tahu penginapan yang enak dan dekat gunung bromo.
tolong informasinya penginapan yang dekat dengan gunung bromo kalo bisa sekalian travelnya.
kalo bisa sekalian informasi harganya kalo nginap 3 hari 2 malam.
thank’s informasinya.