Browse >> Home > Archive: November 2007

| Subcribe via RSS

Waktu Istirahat Kerja

November 30th, 2007 | 33 Comments | Posted in Anekaria
SEBAGAI karyawan pabrik kami berhak mendapatkan istirahat siang selama 1 jam. Dengan waktu satu jam kami bisa menyelesaikan makan siang dan sekalian menjalankan sholat bagi kami yang muslim. Kadang kalo mata lagi ngantuk berat ngegeletak sebentar di musholah atau locker pabrik juga dijabani sebelum meneruskan sisa kerjaan yang belum selesai.
Waktu makan siang adalah waktu favorit bagi kami untuk meredakan urat syaraf sejenak. Dimeja makan ini kita bisa ngobrol tentang berbagai topik hangat dari masalah politik sampai gosip selebritis. Kalau ada teman yang masih ngobrolin tentang kerjaan pasti kita protes lha wong istirahat kok masih ngomong kerjaan hehehe…. Suasana kebersamaan inilah yang dijaga supaya produktifitas buruh pabrik kami tetap terjaga dengan baik.

Untuk masalah makanan, pabrik kami tidak kenal kompromi semua dilayani dengan baik. Yang makannya banyak bisa mengambil porsi besar, demikian juga yang diet bisa makan buah ama sayurnya saja sebanyak yang kita mau asalkan tidak boleh dibawa keluar dari area kantin. Tidak ada pembatasan inilah yang menyebabkan kami sering out of control sehingga buruh pabrik di sini pada gendut-gendut termasuk saya kali.

Karena kantin kami setiap harinya melayani 500an karyawan dipilihlah piring makan yang praktis yang banyak wadahnya, jadi sekali ambil bisa 2-3 macam makanan terangkut. Mungkin ada yang berpikir kok seperti piring ompreng penjara sih? Memang ente pernah dipenjara apa hehehe… Tidak kawan, semua piring alumunium itu dijamin hygienist kok nyucinya saja pake mesin cuci piring yang dapat diset temperatur air panas maupun tekanan airnya dan keluar mesin sudah langsung kering, tidak ada sisa kotoran maupun bekas minyak yang menempel.

Waktu istirahat ini dibagi menjadi beberapa bagian, jadi tidak bersamaan waktunya. Jam 11 sampai 12, jam 12 sampai 13, dan terakhir jam 13 sampai 14. Dibuat bergilir karena kapasitas kantin juga tidak memungkinkan kalau semua makan siang berbarengan. Dan alasan lain karena mesin pabrik kami tidak boleh berhenti beroperasi walau sekejap, jadi urusan istirahat juga harus bergantian tergantung kesepakatan bersama saja.

Kalau ingat dulu sebelum kerja di pabrik, saat makan siang harus nitip office boy untuk beliin makanan. Kadang kalau sempet jalan bareng ama teman makan diluar. Nah kalau sudah begitu budget pengeluaran untuk makan siang musti dianggarkan lebih banyak.

Selamat makan siang !!!

Ruang Ganti

November 28th, 2007 | 32 Comments | Posted in Anekaria
LEMARI kecil (baca locker) yang ada diruang ganti pabrik saya ini mungkin sudah berumur 10 tahun atau bahkan lebih. Kepemilikannyapun sudah berganti-ganti orang seiring keluar masuknya pegawai, bak rumah kontrakan yang tiap tahun bisa berganti penghuni. Lemari-lemari ini tersusun rapi dua tingkat dan berderet.
Ada kurang lebih 500 lemari yang dibagi menjadi dua ruangan, ruang ganti wanita dan ruang ganti pria. Saya tidak tahu persis seperti apa ruangan ganti buat pegawai perempuan. Mungkin lebih longgar dan banyak kaca didalamnya mungkin. Dari ruang ganti inilah rutinitas bekerja dimulai. Diwaktu siang pas jam istirahat seringkali ruangan ini dipenuhi orang yang begeletakan menunaikan hajat tidur siang. Dari bangku panjang sampai lantai dengan beralaskan koran mereka sudah bisa memejamkan mata barang sesaat dua saat.

Didekat ruang ganti ini ada satu lagi ruang untuk menukar satu set seragam kotor kemarin dengan satu set seragam yang telah bersih. Namanya uniform room, mereka melayani kita dengan menyiapkan baju bersih sesuai dengan nama yang tertulis di baju. Terkadang saking banyaknya baju yang dia siapkan pernah juga tertukar dengan baju pegawai lainnya.

Saya membutuhkan waktu sekitar 3 menit didalam ruang ganti ini untuk sekedar bertukar baju biasa ke baju seragam. Setelah rapi jali maka dimulailah sebuah episode yang namanya mencari nafkah. Selamat Bekerja.

Konsultasi Online

November 27th, 2007 | 9 Comments | Posted in Anekaria
ADA satu fasilitas Yahoo yang akhir-akhir ini menyita perhatian saya yaitu Y!A alias Yahoo Answer. Sebenarnya fasilitas ini di Yahoo sudah ada sejak lama, tetapi saya baru ngeh dan ngerti gimana cara pakenya setelah dikasih tahu oleh aLe.

Disini kita bisa berbagi informasi/opini atau mengemukakan pertanyaan. Dari pertanyaan yang umum sampai yang saru bebas di kemukakan disini.

Salah satunya saya mencoba menjawab pertanyaan gundah seorang istri tentang terbongkarnya kebohongan suaminya. Berikut saya kopas dari Y!A

Mencintai dengan tulus?
rasanya saya sudah mencintai suami saya dengan tulus. hingga suatu hari aku mengetahui kebohongannya. sehingga aku merasa sia-sia. tapi kami ingin mencoba lagi.bisakah?

Dan Jawaban saya:

by Totoks
kalau kekuatan cinta anda masih kuat dan anda tulus memaafkannya dan sang suami juga telah memohon maaf dan tidak akan pernah membohongi anda lagi, saya kira kesempatan kedua masih memungkinkan untuk dicoba

Nah kalau sekarang anda bingung atau mempunyai keraguan akan suatu hal cobalah tanyakan ke Yahoo Answer pasti banyak yang dengan senang hati memcarikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan anda.

Kamera Serba Bisa

November 26th, 2007 | 22 Comments | Posted in Teknologi
AKHIRNYA jadi juga saya mengambil K800i. Sebuah kamera saku yang serba bisa dan wajib dimiliki oleh para blogger sejati. Serba bisa karena kamera ini dilengkapi dengan beberapa fitur yang pintar, misalnya kamera dengan resolusi 3.2 mega pixels ini sudah dilengkapi dengan piranti komunikasi yang sudah mendukung 3G. Dan untuk para blogger sejati kamera ini telah mendukung picture blogging dimana kita tinggal jepret lalu posting saat itu juga.
Sebenernya bukan karena merasa sok blogger kudu punya kamera ini. Pertimbangan saya memilih K800i ini karena si dia adalah handphone dengan fungsi kamera terbaik saat ini dan dapat dijadikan sebagai piranti pemutar musik juga. Fungsi radio FMnya juga lumayan asoy geboy menemani kita dikala sedang bosen.

Biar tidak dikatakan HOAX dibawah ini adalah hasil jepretan dari K800i saya tanpa di retouch, bagaimana? lumayan kan?

Wisata "Negeri Diatas Awan Gunung Bromo" (2)

November 23rd, 2007 | 38 Comments | Posted in Perjalanan
SETELAH seharian berwisata agro di “Negeri Setuja Apel” sabtu (28/7/2006) kami meneruskan perjalanan kami ke Bromo. ADA beberapa pilihan rute mencapai Bromo. Yang paling populer, melalui Probolinggo. Alternatif lain menuju Penanjakan adalah melalui Wonokitri di barat laut Bromo yang bisa dicapai dari Malang atau Pasuruan, atau melalui Lumajang di tenggara Bromo. Pilihan terakhir ini jarang dilakukan karena jalan sulit dilalui.
Kami sengaja mengambil rute melalui Probolinggo karena kami menggunakan Bus Pariwisata yang tidak memungkinkan melalui jalur Wonokitri yang sempit dan berliku itu. Begitu berbelok ke kanan dari arah Surabaya-Probolinggo sebelum memasuki kota atau yang dikenal dengan Tongas jalan mulai menanjak dan berkelok, tetapi beraspal mulus hotmix. Jam 19.00 kami telah sampai di Grand Bromo Hotel Desa Sukapura yang masih berada di wilayah Kabupaten Probolinggo. Penginapan ini termasuk salah satu hotel berbintang terbaik di Probolinggo. Sebenarnya anda bisa juga memilih penginapan di Desa Ngadisari atau Desa Cemoro Lawang. Desa-desa ini adalah sebagian kecil dari desa-desa lain yang dihuni oleh masyarakat Tengger.

Meskipun hotel penginapan kami agak jauh dari Gunung Bromo tetapi hawa dinginnya teramat menusuk sampai ketulang, pantesan kami tidak menemui Air Condition yang biasanya menjadi fasilitas pelengkap hotel berbintang. Petugas hotel memberitahukan kepada kami untuk bersiap di lobby jam 03.00 karena matahari akan muncul sekitar jam 05.00. Pakaian pun harus cukup tebal karena suhu di Penanjakan bisa mencapai lima derajat Celsius atau kurang. Perjalanan ke Penanjakan hanya boleh menggunakan jip Toyota four-wheel drive milik penduduk Tengger yang memang disewakan untuk keperluan ini. Alasannya, jalan menanjak terjal dan perjalanan malam hari bisa merepotkan untuk yang tak mengenal jalan di sana. Sebelum istirahat kami menyempatkan untuk nongkrong dulu di lobby lounge sembari menukarkan kupon welcome drink kami dengan segelas minuman hangat bandrek yang bisa menghangatkan badan.

Jam 03.00 kami semua telah siap di lobby. Ternyata rombongan kami tidak sendirian terlihat beberapa rombongan turis asing juga telah bersiap untuk “Berburu Matahari Bromo” bersama rombongan tamu domestik lainnya. Dengan pelupuk mata masih berat, kami berangkat naik jip sewaan. Secara beriringan kami menyusuri jalan tanjakan yang berliku, tak jarang pengemudi yang asli orang Tengger itu mengoper perseneleng ke gigi yang lebih rendah. Seperti juga rata-rata jip hardtop lainnya, jip yang kami naiki terawat sangat baik meskipun buatan akhir tahun 1970-an, sehingga tanjakan curam dia libas dengan mudah.

Jalanan gelap, berkelok-kelok, dan terus menanjak. Sepanjang jalan kami tidak berpapasan dengan kendaraan lain, meskipun beberapa kali jip kami saling susul. Sekitar satu jam kemudian kami mulai memasuki lautan pasir. Pengemudi kami memilih rutenya sendiri, tidak mengikuti batu-batu putih penunjuk jalan yang tersusun di atas pasir. Terlihat satu-dua rombongan orang berjalan kaki, ada juga yang naik kuda, mengikuti petunjuk batu-batu putih. dari kejauhan terlihat satu-satu sorot lampu mobil, menandakan ada beberapa orang yang bertujuan sama seperti kami.

Sampailah kami di dataran tertinggi Penanjakan. Sayang tempat yang disediakan di Penanjakan untuk menyaksikan terbitnya Matahari terlalu sempit, sehingga setiap orang berjubelan berusaha mencari tempat terbaik. Semua telah siap menodongkan kameranya kearah pegunungan, moncong-moncong kamera itu sudah tidak sabar menunggu moment terbitnya sang Matahari diufuk timur. Begitu moment yang ditunggu muncul semua pengunjung bersorak bahkan sampai bertepuk tangan. Saya tak bisa menyembunyikan kegembiraan saya karena memang sebelunya tidak pernah menyaksikan langsung penguasa siang itu datang.

Perlahan matahari mulai bergerak semakin tinggi, menurut saya pemandangan kali ini lebih menyedapkan mata. Sejauh mata memandang yang tampak adalah kombinasi antara sinar Matahari pagi dan kabut yang mengambang di lereng Gunung Batok, Bromo, dan Kursi dengan latar belakang Gunung Semeru. Betul-betul pemandangan dramatis serasa kita berada di “Negeri Diatas Awan”.

Setelah puas menikmati pemandangan gunung Bromo dari dataran tertinggi kita segera meneruskan perjalanan lagi menuju gunung Bromo. Jip kami bergerak turun dari Penanjakan dan kembali melintasi lautan pasir. Pada pagi hari semua terlihat jelas dan sejauh mata memandang tampak lautan pasir dan puncak-puncak gunung. Mungkin disinilah film Pasir Berbisik yang dibintangi Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo di buat. Di dekat kuil yang digunakan untuk upacara Kesada di kaki Bromo, kendaraan berhenti. Perjalanan selanjutnya adalah menuju kawah Bromo. Sampai disini kita musti jalan kaki atau naik kuda menuju ke kaki tangga.

Perjalanan dengan naik kuda sangat menegangkan buat saya karena selain jalanannya terjal dan mendaki kebetulan saya juga tidak biasa berkuda, biasanya berMio hehe.. dasar katrok saya wong ndeso. Tidak perlu waktu lama kami telah sampai di kaki tangga. Lho kok gunung ada tangganya toh. Mungkin supaya pelancong bisa mudah mendaki gunung makanya dibuatlah tangga itu. Gitu aja kok repot. Bila selama ini praktis kami tidak perlu terlalu banyak menggerakkan fisik, maka mendaki 245-an anak tangga merupakan ujian (tidak pernah ada yang sepakat tentang jumlah anak tangga ini, tetapi kira-kira antara 240-250 anak tangga). Tetapi, kemudian ini pun hal yang bisa dikompromikan karena semua orang berhenti setiap kali merasa lelah. Hanya anak muda yang merasa tidak sabar pada barisan yang bergerak lambat yang menggunakan tangga turun untuk naik ke atas dengan cepat.

Mulut kawah tidak terlalu luas, tetapi mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat. Menurut cerita setiap upacara Kasada aneka hasil bumi dan unggas dilempar kemulut kawah, namun dibawah bibir kawah telah banyak orang yang siap berebut menangkap aneka persembahan tersebut yang berharap sebagai berkah.

Setelah puas menikmati atraksi Matahari terbit dan keindahan “Negeri Diatas Awan” lalu bercanda dengan “Pasir Berbisik” tiba saatnya kami untuk turun gunung. Jam telah mununjuk angka 8.30 pagi sesuai kesepakatan kami untuk berkumpul kembali di jip masing-masing. Ketika kembali ke Sukapura, baru terlihat bahwa di kiri-kanan jalan yang kita lewati adalah lereng-lereng terjal, selain jurang, yang sebagian besar ditanami tanaman sayur oleh penduduk.


Dari Grand Bromo Hotel di Sukapura setelah menikmati sarapan pagi kami langsung checkout dan bus kami segera tancap gas menuju ke Bandara Juanda Surabaya. Disana sudah menunggu pesawat dengan tempat duduk seperti angkot, siapa cepat dia dapat cendela. Bener-bener wong ndeso semua, kami berlarian menuju pesawat Air Asia berlomba mendapatkan tempat duduk dekat jendela, biar bisa melihat gunung dari atas awan. Maka kembalilah kami di kehidupan normal kami di Jakarta sebagai buruh pabrik roti.

NB:
1. Semua foto diambil dengan kamera digital abal-abal dengan resolusi maximum 3.2 Mega Pixel
2. Setelah kunjungan kami ke Grand Bromo Hotel saya mendengar kabar bahwa sekarang hotel itu telah tutup untuk sementara waktu karena tingkat hunian dan kunjungan wisatawan ke Bromo turun disebabkan oleh akses jalan di Porong terendam lumpur.