MASIH teringat benar di benakku ketika pertama kali melafalkan kalimat adzan ditelinga bidadari kecilku, sampai tak kuasa mataku berkaca-kaca dan hasilnya kalimat yang terucapun serasa piluh bahkan hampir tak sanggup aku menyelesaikan kalimatnya.Ya, begitulah rasanya meskipun sudah pernah ku lafalkan kepada bidadari kecil pertamaku 7 tahun silam tetapi tetap saja terulang lagi kepada bidadari kecilku yang kedua ini. Aku tak sanggup menatap mata kecilnya yang masih suci yang tidak tahu menahu kenapa dia terlahir didunia ini. Dia terlahir tanpa mengenal keburukan, anak-anak terlahir kedunia dalam keadaan merdeka, kitalah para orang tua yang harus bertanggung jawab penuh pada proses pendidikan anak ini.
Disini aku tidak akan bicara terlalu banyak tentang pola pendidikan kepada anak. Karena diluar sana sudah banyak para ahli yang menguasai betul bagaimana cara mendidik anak secara benar. Yang terpenting bagi kita orang tua bisa mengajarkan dia dengan cinta dan kasih sayang. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek, dan keinginan menumbuhkembangkan anak yang kita cintai.
Rasanya kurang lengkap kalau saya tidak mengutip tulisannya Dorothy Law Nolte sebagai berikut :
Jika anak dibesarkan dangan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak belajar dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang tua yang mampu mendidik dan membimbing anak-anak dengan baik, yang diliputi cinta dan kasih sayang.